Home / Ekbis / BPJN X Dinilai Gagal Terapkan Sistem Long Segemen

BPJN X Dinilai Gagal Terapkan Sistem Long Segemen

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Piet Djami Rebo

NTTTERKINI.COM, Kupang – Ketua Pokja Advokasi Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi NTT Piet Djami Rebo menilai pekerjaan jalab negara di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak akan berhasil gunakan sistem long segmen.

Seperti yang dilansir obornusantara online, penilaian ini disampaikan Piet Djami Rebo terkait penanganan jalan negara yang dilakukan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) X Kupang, Dirjen Bina Marga, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Penanganan jalan di NTT tak berhasil gunakan sistem long segmen,” kata Piet Djami Rebo, Jumat, 22 November 2019.

BPJN X Kupang beberapa tahun terakhir menggunakan merubah sistem penanganan jalan nasional dari sistem pemeliharaan berkala yang ditangani langsung oleh satuan kerja yang dinilai lebih efektif diganti ke sitem long segment yang sama sekali tidak mampu mengatasi kerusakan jalan Nasional, khususnya di wilayah NTT.

Menurut dia, model penganan jalan nasional dengan pola long segment pada ruas jalan nasional merupakan sesuatu yang baru dilkasankan pada beberapa tahun terakir ini. “Sebenarnya ini pola yang baik dalam upaya percepatan mewujudkan jalan nasional yang mantap,” katanya.

Baca Juga :  Bayi Baru Lahir Wajib Miliki JKN-KIS

Tujuan dari model ini, jelas dia, untuk mendapatkan kondisi jalan yang seragam dengan indikator kinerja yang terukur, seperti tingkat kemantapan jalan, kecepatan rata rata, kecepatan menangani masalah kerusakan, dan sanksi yang dijatuhkan kepada penyedia jasa.” jelas mantan Kepala Dinas PU NTT ini.

Selain itu kata Djami Rebo, Untuk efektifnya penganan dengan pola long segment membutuhkan kesiapan Pengguna jasa maupun penyedia jasa mulai dari tahap perencanaan, pelkasanaan, pengawasan oleh Balai Jalan Nasional X Kupang selaku Pengendali lapangan.

“BPJN X Kupang sebagai pengelola anggaran APBN di NTT harus Benar-benar profesional dalam mengawasi seluruh kontraktor/penyedia jasa yang menangani proyek long segment ini, sehingga tidak terjadi hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Pada pelaksanaan beberapa tahun sebelumnya masih pada tahapan percobaan, sehingga dapat dimaklumi, jika masih terdapat kekurangan, namun dalam 2 tahun terakhir ini justeru banyak kerusakan jalan di ruas jalan negara yang tidak ditangani.

Bahwa masih dijumpai kinerja jalan yang tidak memuaskan atau tidak mencapai standar kinerja yang tidak memuaskan seperti kerusakan, jalan berlubang, bahu jalan yang tidak terawat dan lain-lain, dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti, kontraktor /penyedia jasa yang tidak mempunyai Sumber Daya Manusia yang punya Kompetensi (Keahlian dan keterampilan), peralatan, modal kerja yang tidak sesuai, kemampuan di bidang nanagemen yang rendah serta kepedulian dan rasa tanggung jawab yang rendah.

Baca Juga :  Tekan Inflasi, BI NTT Fokus Bina UMKM

“Umumnya kontraktor lebih memilih mengerjakan pekerjaan efektif (Rehabiliasi, rekonstruksi), sedangkan pemeliharaan Rutin tidak dilaksanakan secara baik,” katanya.

Dari sisi pengguna jasa atau PPK, berkaitan dengan kompetensi teknik dan managerial, lemahnya managemen pengawasan, pengendalian pekerjaan, tingkat kepedulian yang rendah sebagai manager ruas jalan, keberanian, ketegasan untuk menjatuhkan sangsi bagi rekanan yang gagal mencapai kinerja yang ditetapkan.

“Gagalnya penanganan jalan negara dengan sistem kong segment ini harusnya menjadi tanggung jawab Kepala Balai dalam mengawasi dan mengarahkan seluruh personil balai mulai dari satker hingga pengawas lapangan, jika ingin mencapai hasil yang baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasiinal (BPJN) X Kupang Mocthar Napitupu hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. (*/Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]