Home / Hukrim / Cinta Terlarang Berujung Maut

Cinta Terlarang Berujung Maut

Merry Grace
Merry Grace

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kerangka Merry Grace saat Hendak dimakamkan

NTTTERKINI.COM, Maumere – Pada tahun 1997, Merry Grace alias Yosephine Keredok Payong dan Herman Jumat Masan alias Herman menjalin hubungan asmara yang dilarang menurut agama Khatolik. Karena Herman adalah seorang pastor dan Grace adalah seorang suster.

Herman, sarjana filsafat theologi berkenalan dengan Merry Grace sekitar tahun 1997. Keduanya kemudian bekerja di Desa Lela, Sikka, NTT. Mereka mengabdi di bidang kemanusiaan. Disitulah awal kisah cinta kedua insan manusia itu di mulai.

Simon Soge Ola, 54 tahun, keluarga Merry Grace mengisahkan kisah cinta terlarang antara kedua insan tersebut, sejak tahun 1997 lalu. Merry bekerja sebagai relawan di Lela, Sikka, sedangkan Herman adalah seorang pembina mahasiswa frateran Lela. Tempat kerja kedua berdekatan, sehingga hubungan asmara keduanya tetap berjalan.

Jalinan cinta kedua insan ini pun membuahkan hasil. Merry Grace hamil. Hal itu tidak diinginkan Herman, karena keduanya akan di keluarkan, jika anak itu dilahirkan ke muka bumi ini. Herman pun melarang Merry untuk bepergian saat hamil. Perut Merry pun diikat kencang agar tidak diketahui sedang hamil. “Herman berusaha menutupi perbuatannya itu,” katanya.

Pada suatu malam di tahun 2001, tidak diketahui tanggal pastinya. Merry Grace diajak Herman ke kamarnya yang kebetulan sepi, karena mahasiswa frateran Lela sementara masa liburan. Saat itulah anak laki-laki keduanya dilahirkan. Tidak diketahui pasti proses kelahiran anak hasil hubungan gelap keduanya. Bayi laki-laki yang dilahirkan itu pun dicekik Herman hingga tewas. Bayi itu lalu dikuburkan disamping kamar tidur Herman.

Tempat penguburan bayi itu ditanami bunga mawar. Di sekitar rumah itu memang terdapat jajaran taman bunga sehingga tidak ada yang curiga ada kuburan bayi di dalamnya. Hubungan Herman dan Merry Grace terus berlanjut. Tahun 2002, Merry Grace hamil anak kedua. Herman kemudian minta agar digugurkan lagi. Proses pengguguran diusulkan di kamar Herman. Namun usulan itu ditolak Merry. Padahal, Herman telah membeli perlak (terpal) pengalas kasur untuk proses pengguguran dan pendarahan tertampung di dalam plastik.

Penolakan Merry itu, menimbulkan pertengkaran antara keduanya. Merry menilai tindakan itu tidak dibenarkan. Herman harus bertanggung jawab, karena sudah dua kali menghamilinya. Herman emosi dan mencekik leher Merry yang tengah hamil sekitar tujuh bulan hingga tewas. “Pembunuhan ini terjadi pada hari libur, di mana para mahasiswa yang dibina Herman sedang libur,” katanya.

Baca Juga :  Mantan Kadis ESDM Lembata Divonis 2 Tahun Penjara

Merry bersama bayinya kemudian dikuburkan di lubang pembuangan sampah. Jenazah Merry dan bayinya dibungkus di dalam perlak (plastik) kemudian dikuburkan. Usai penguburan, Herman menulis surat ke orang tua Merry di Adonara. Isinya antara lain, “Mama… tidak usah mencari saya karena saya pindah tugas di Jakarta. Nanti saya akan beritahu, tempat tinggal dan alamat baru saya,” Tertanda Merry Grace.

Sejak saat itu, orangtua tidak pernah dapat kabar sama sekali. Mereka terus melakukan pencarian. Sementar melakukan pencarian, tiba-tiba ada kabar, Merry sudah pindah di Kalimantan, dan terakhir tahun 2010 tersiar kabar Merry berada di Bandung, dan akan merayakan Natal di Adonara bersama orangtuanya.

Ternyata semua itu hanya isu bohong yang sengaja Herman untuk mengelabui kecurigaan orangtua. Tahun 2006, Herder kemudian pindah tugas dari Lela, Sikka ke Hokeng, Kabupaten Flores Timur, menangani perusahaan milik Keuskupan Larantuka. Akan tetapi, Herman yang dinilai tidak jujur mengelola keuangan perusahaan. Ratusan juta rupiah uang milik Keuskupan Larantuka hilang. Herman lalu dipindahkan ke Kalikasa, Lembata. “Herman menolak, dan mengundurkan diri sebagai anggota Keuskupan Larantuka,” kisahnya.

Setelah membunuh Merry, Herman menjalin kisah asmara dengan Sofi gadis asal Maumere. Herman berjanji akan menikahi Sofi, setelah keduanya membangun rumah di kampung Herman di Lamahelan, Adonara. “Sofi berperan besar dalam proses pembangunan itu,” katanya.

Namun, rencana perkawinan keduanya tak disetujui orangtua Herman mengingat hutang Herman sudah mencapai ratusan juta. Utang itu untuk kepentingan Herman semasa kuliah sampai bekerja. Tahun itu juga Sofi pulang dari Adonara ke Maumere. Sofi pun menghubungi Herman guna menanyakan hubungan asmara keduanya, apakah masih dilanjutkan atau tidak, ternyata Herman mengatakan tidak lagi.

Merry Grace

Inilah awal mula terkuaknya kisah cinta terlarang yang berujung maut antara Merry Grace dan Herman. Sofi yang marah ditinggalkan Herman pun melaporkan tindakan bejat Herman membunuh Merry dan kedua anaknya itu ke sejumlah tokoh agama di Maumere. Namun laporan itu tidak ditanggapi. Tahun 2011, saudara Merry bernama Pit Payong pulang tugas kemanusiaan dari Filipin,a dan bekerja di salah satu lembaga swasta di Maumere.

Baca Juga :  Aktivitas Gunung Rokatenda Mulai Menurun

Sofi pun melaporkan kasus ini kepadanya, tetapi tidak segera ditindaklanjuti Pit. Pit meminta tetua adat di kampung Tanah Boleng untuk membuat upacara adat, guna memastikan apakah Merry sudah meninggal dunia atau masih hidup. Akhir tahun 2012 hasil upacara adat yang disebut Bau Lolon itu menunjukkan, Merry sudah meninggal. Orangtua Merry kemudian melapor ke polisi di Maumere.

Penggalian pun dilakukan atas petunjuk Sofi pada 27 Januari 2013. Sofi tahu mengenai pembunuhan dan tempat penguburannya karena Herman berulang kali membawanya berdoa di tempat tersebut. Sesuai kesaksian Sofi, saat berdoa di taman bunga itu Herman menyampaikan permohonan maaf berulang kali kepada Merry dan bayinya.

Penggalian makam pun dilakukan pada hari Minggu 27 Januari 2013. Di tempat itu ditemukan perlak (plastik), rambut, tulang belulang, gigi, dan cincin milik Merry. Kawat yang dipasang pada gigi Mery oleh seorang perawat gigi di Lela masih tampak utuh, cincin emas milik korban dengan tulisan “MG” masih ada.

Setelah menolak menikahi Sofi, Herman pun meninggalkan Adonara, NTT menuju ke Palangkara, Kaliamantan Tengah dan bekerja di sebuah pabrik triplkes disana. Setelah kasus ini terkuak, Herman terus menjalin komunikasi dengan Pit Boleng, yang juga adalah seorang pastor. Herman mengaku ingin bertemu Pit Boleng di Maumere. Namun, saat tiba di Bandara Frans Seda, Herman langsung di jemput Kasat Reskrim Polres Sika AKP Achmad dan ditahan atas kasus pembunuhan itu.

Sekarang, orangtua Merry sudah berada di Maumere. Sedangkan tes DNA sedang dilakukan di Denpasar, namun sejumlah alat bukti sudah mengarah pada pelakunya, Herman. “Kami sudah tetapkan Herman Jumat Masan sebagai tersangka. Alat bukti sudah kuat. Dia sudah mengakui perbuatannya,” kata Kasat Reskrim Polres Sika AKP Achmad.

Andai saja, Heerman menikahi Sofi, kasus pembunuhan ini mungkin tidak akan terungkap. Sofi melaporkan kasus ini ke semua pihak, termasuk keluarga Merry, karena merasa kesal dikhianati Herman. (ado/berbagai sumber)

Komentar ANDA?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]