Home / Ekbis / Cita Rasa Dodol dari Buah Lontar

Cita Rasa Dodol dari Buah Lontar

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
David sedang mengolah bahan dodol lontar

David sedang mengolah bahan dodol lontar

NTTTERKINI.COM, Kupang – David Djemata, 48 tahun bersama istrinya Eni Astuti, 43 tahun mengumpulkan buah lontar ( Saboak- biasa disebut orang Kupang) yang jatuh di bawah pohon di sekitar kampungnya di kelurahan Airnona, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mengumpulkan buah lontar yang jatuh dan masih layak dipakai itu untuk membuat dodol buah lontar.

Limbah buah lontar yang terkumpul sebanyak dua karung besar lalu dijemur selama kurang lebih 2-3 jam. Selanjutnya bersama istrinya, Erni Astuti memeras buah pohon lontar untuk mengambil lemaknya yang dijadikan sebagai bahan baku pembuatan dodol. “Limbah pohon lontar yang kami gunakan membuat dodol,” kata David yang ditemui dikediamannya belum lama ini.

Lemak yang dihasilkan kemudian dikumpulkan hingga mencapai 6 kilogram (kg). Lemak buah lontar itu, lalu dicampur dengan gula air (gula dari pohon lontar) dan santan kelapa, campurannya harus sama rata, jika 6 kg, maka gulanya harus 6 kg juga. Setelah itu lemak buah kelapa yang telah dicampur dimasak hingga kental atau sekitar 4 jam lamanya. Usai dimasak, lemak yang telah dicampur itu kemudian dibiarkan selama sehari. “Kami buat sesuai kemampuan kami sebanyak 6 kg saja,” katanya.

Setelah didiamkan sehari, lemak pohon lontar yang telah dicampur kemudian diproses untuk pembuatan dodol, dengan cara memotongnya sesuai ukuran dodol, lalu dikemas dalam plastik. Satu plastik kemasan berisi sebanyak 9 buah dodol yang dijual Rp 3000 per plastik. Dalam sekali masak sebanyak 6 kg, biasanya David hanya menghasilkan 80 bungkus. Dalam seminggu David hanya bisa membuat dodol sebanyak 2 kali atau sebanyak 12 kilogram (kg). “Tenaga yang terbatas dan prosesnya yang cukup lama, maka kami hanya mampu buat dua kali seminggu,” katanya.

Baca Juga :  Tunggakan Dana PEM di Kota Kupang Capai Rp800 juta

Untuk pembuatan dodol dalam sekali masak biasanya menghabiskan biaya sebesar Rp 240 ribu, sehingga keuntungan yang diraih pun tidak besar hanya sekitar Rp 30 ribu sekali masak. David mengaku telah menekuni bidang ini sejak tahun 2004 lalu, sejak mendapat pelatihan dan tergabung dalam kelompok dodol buah lontar di wilayahnya.
Namun, hingga kini hanya dirinya yang masih menekuni bidang ini, sedangkan anggota kelompok lainnya yang berjumlah lima orang. “Kami hanya diberikan bantuan berupa peralatan dan dana awal sebesar Rp 5 juta,” katanya.

Sekali produksi dodol, katanya, dibutuhkan limbah buah lontar sebanyak 50 buah. Kasiat dari dodol buah lontar ini, katanya, bisa menyembuhkan penyakit maag/lambung. Dodol yang dihasilkannya didistribusikan ke pemegang hak paten, Wayan Mahayasa sebagai pemegang merk dodol buah lontar ini.

Wayan Mahayasa yang ditemui terpisah mengisahkan melalui satu penelitian yang dilakukannya, pohon lontar tidak pernah busuk, sehingga bisa dihasilkan untuk pembuatan dodol. Dari situ, Wayan memberikan pelatihan ke sejumlah masyarakat untuk menekuni pekerjaan ini. “Memang tidak banyak yang tertarik, tersisa David dan beberapa orang lagi,” katanya.

Baca Juga :  Sabu Raijua Kembangkan Garam Hingga 2 Ribu Ha

Pohon lontar sangat banyak di wilayah NTT, namun sangat kurang yang mengetahui manfaat dari pohon lontar itu. Karena pohon lontar mulai dari daun, buah dan batangnya bisa menghasilkan banyak kerajian. Selain untuk membuat tuak, buahnya juga bisa dibuatkan dodol. Batangnya juga bisa digunakan untuk bahan bangunan rumah.

Dia mengaku telah mengembangkan usaha ini sejak tahun 1998 lalu, saat Indonesia mengalami krisis moneter. Hal ini bisa dijadikan sebagai lahan pengerjaan baru. Dia lalu memberikan pelatihan kepada sejumlah warga untuk menekuni bidang ini. Sambil melakukan pembibitan pohon lontar, sehingga tidak punah. “Buah ini sering diabaikan masyarakat, karena sebagai pakan ternak. Namun, saya manfaatkan untuk membuat dodol,” katanya.

Dia mengkuatirkan pohon lontar akan punah, sehingga terus melakukan pembibitan sehingga pengelolaan dodol buah lontar bisa terus berkembang. Dia mengatakan telah hak paten dodol buah lontar, sehingga distribusinya harus melaluinya. Dodol yang dikemas itu kemudian dimasukan dalam dos sebelum didistrbusikan ke toko di wilayah Kota Kupang. “Dalam dos berisi 9 buah yang dijual Rp 5000 per dosnya,” kata Wayan.

Salah satu konsumen dodol buah lontar, Kanis mengaku cita rasa dodol sangat alami, karena terbuat dari pangan lokal, yang terjamin. Apalagi pohon lontar ini bisa menyembuhkan penyakit yang dideritanya yakni maag. “Rasanya beda dengan dodol garut, atau lainnya,” kata Kanis. (Ado)

Komentar ANDA?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]