Diusir Gubernur NTT, Warga Sandera Mobil Dinas Peternakan

0
4894

Warga saat menyandera mobil dinas Peternakan NTT

NTTTERKINI.COM, Kupang – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor B. Laiskodat, marah dan mengusir warga Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah  Selatan (TTS) yang mendiami Kawasan Besipae, tempat pengembangbiakan ternak sapi milik Provinsi NTT.  
Warga tersinggung dan balas menyandera dua mobil dinas milik Balai Litbang Peternakan NTT, Minggu, Minggu, 9 Februari 2020 lalu.  “Ini tanah di Kawasan Besipae milik Pemprov NTT untuk pengembangbiakan ternak sapi. Mengapa ada rumah-rumah warga di sini. Saya minta semua keluar dan pindah dari sini,” kata Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat dengan nada tinggi.
Laiskodat sedang dalam perjalanan darat bersama rombongan pejabat perjalanan ke Kabupaten Malaka, perbatasan Timor Leste.  Rombongan Gubernur NTT melintas jalur Pantai Selatan Timor.  Mereka akan menghadiri Kegiatan Rakor Bidang Kesehatan Tingkat NTT di Malaka.  Saat tiba di Kawasan Besipae, Gubernur NTT meminta mobil keluar, karena ia melihat kawasan itu sudah dihuni oleh warga, termasuk tinggal di asrama UPT Besipae yang didirikan Pemprov NTT.  Gubernur murka melihat kondisi tersebut.  
Usai memarahi warga Linamnutu, Gubernur melanjutkan perjalanan bersama rombongan pejabat dari Kupang. Namun, beberapa menit berselang, warga menghadang iring-iringan kendaraan rombongan gubernur.
Dua mobil dinas milik Balai Litbang Peternakan NTT disandera warga, termasuk sopir serta penumpangnya.  “Ini tanah milik leluhur kami, tanah hak ulayat. Yang dipinjampakaikan untuk Pemprov NTT untuk pengembangbiakan ternak sapi sejak tahun 1970-an.  Namun hingga sekarang tidak ada aktivitas di atas lahan,” kata warga Linamnutu, Nikodemus Manao dan  Daud Selan.
Danramil Amanuban Selatan, Sertu Obaja Soinbala, Babinsa Noebeba, Sersan Dua Beny Leo, Camat Amanuban Selatan. John Asbanu,  tim intel kodim 1621 Soe dan tim intel Polres TTS melakukan lobi dan meminta untuk membebaskan kendaraan dan para penumpangnya. 
Warga hanya melepas satu mobil dinas,  sedangkan mobil dinas lainnya tetap ditahan sebaai jaminan. 
“Kami tetap tahan mobil ini  hingga gubernur mau datang dan berdialog dengan cara yang santun sesuai adat-istiadat orang Timor.  Bukan dengan cara bentak-bentak dan kata-kata kasar kepada kami para orang tua di kampung,” pinta Daud Selan. (K-1/H9/Ado)

Komentar ANDA?