Face Negotiation dalam Video Respons Edho Zell terhadap Prank Ojek Online

0
361

Ilustrasi

Oleh: Yuni Indra Chatarina

Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

NTTTERKINI.COM, Kupang – Saat ini teknologi berkembang dengan pesatnya. Hal ini mengakibatkan banyak aspek di dalam kehidupan menjadi lebih mudah. Di mulai dari komunikasi yang sudah tidak sesusah dulu lagi. Jika dulu harus bertemu langsung untuk dapat berkomunikasi, atau harus mengirim surat untuk mendapatkan kabar, kini semua itu menjadi lebih mudah dan cepat. Teknologi digital telah mewadahi hal tersebut dalam satu genggaman. Melalui ponsel, kita dapat bertukar kabar, baik melalui pesan, panggilan suara, hingga panggilan video. Bukan hanya dalam aspek komunikasi, namun teknologi digital juga mempermudah orang-orang dalam proses jual-beli. Jika pada awalnya seseorang harus datang langsung ke toko atau pasar untuk mendapatkan barang yang ia inginkan, kini tidak lagi. Segala hal sudah diwadahi dalam teknologi sehingga kita sebagai pengguna tidak lagi harus bersusah-payah. Salah satu perusahan start up yang mewadahi berbagai macam aspek dalam kehidupan adalah Gojek dan Grab. Perusahaan ini mempromosikan jasa dalam sebuah aplikasi. Pada awalnya mereka hanya berfokus pada bidang transportasi saja, namun kini sudah berkembang ke berbagai aspek. Seperti jasa mengantarkan makanan, barang, atau membelanjakan barang yang diinginkan oleh konsumen.

Gojek dan grab tentu memperkerjakan banyak orang dalam perjalanannya memenuhi permintaan konsumen. Di mana mitra mereka atau biasa disebut dengan driver akan bertugas untuk menjemput dan mengantar konsumen atau barang pesanan mereka. Pemesanan dilakukan melalui aplikasi yang kemudian akan menghubungkan antara river dan konsumen. Melalui aplikasi tersebut pula konsumen dapat memberikan nilai terhadap kinerja driver atau bahkan dapat membatalkan pesanannya.

Namun, beberapa bulan belakangan ada satu fenomena yang terjadi di Indonesia. Fenomena tersebut adalah maraknya prank ojek online dan pesanan fiktif. Menurut Roy (2019) bentuk dari prank yang dilakukan adalah dengan melakukan pemesanan taksi online untuk mengantar mayat. Selain itu juga dengan memesan makanan dengan harga yang cukup mahal, kemudian dibatalkan. Ada pula yang memesan makanan dan membiarkan mitra ojek online menunggu dalam waktu yang cukup lama. Sebagian besar pesanan fiktif atau prank ini dilakukan oleh para youtuber yang ingin menjadikan prank atau pesanan fiktir itu menjadi konten Youtube mereka.

Isu ini tentu menjadi perhatian dari masyarakat. Banyak pihak yang mengecam tindakan oknum-oknum tersebut. Pasalnya prank ojek online tersebut sangat merugikan pihak driver yang terkena prank. Di mana, mereka akan mendapat kerugian berupa uang. Selain itu, performa mereka dalam pekerjaan juga akan turun. Hal ini dikarenakan ketika mereka mendapat pembatalan pesanan, secara langsung performa mereka akan turun. 

Perhatian akan kasus ini tidak hanya diberikan oleh masyarakat dan dari perusahaan ojek online saja, namun juga sesama youtubers. Tak sedikit youtubers yang juga menyayangkan hal tersebut terjadi. Salah satu youtubers yang memberikan perhatian pada kasus ini adalah Edho Zell. Meski tidak secara langsung ia menyatakan kontra pada sikap oknum-oknum yang melakukan prank, namun ia menunjukkan sikapnya dalam dua video Youtube yang ia unggah. 

Yang pertama berjudul “Prank Ojol Cancel? Lima Ojol Sekaligus”. Video ini menimbulkan cukup banyak respons negatif. Hal ini dikarenakan judulnya yang terkesan negatif dan menimbulkan banyak pertanyaan. Namun, di dalam video tersebut tidak ada unsur negatif atau merugikan sama sekali. Dalam video tersebut Edho Zell memesan makanan pada lima driver sekaligus. Ketika pesanannya datang, ia  langsung memberikan makanan yang ia pesan kepada driver tersebut. Tentu saja hal tersebut membuat sang driver kaget. Pasalnya makanan yang selama ini driver antarkan, seringkali belum tentu pernah ia cicipi. Setelah Edho memberikan makanan kepada sang driver, ia kemudian mengajukan pertanyaan kepada driver tersebut. Seperti “apakah pernah terkena prank atau pembatalan sebelah pihak?” lalu “kira-kira berapa kerugian yang didapatkan?”. Setelah menjawab pertanyaan tersebut Edho mengganti kerugian yang mereka dapatkan. Jika driver tidak pernah terkena prank makan Edho akan memberikan uang sejumlah Rp. 500.000,-.

Video kedua berjudul “Curhat Ojol Kena Prank Cancel, Hati-Hati Modus Baru”. Di dalam video tersebut, Edho Zell mengumpulkan beberapa driver yang pernah terkena prank ataupun penipuan dalam bentuk pembatalan pesanan secara sepihak. Sebelunya ia telah menyatakan di dalam cerita Instagramnya agar para driver yang terkena prank untuk menghubunginya dan melakukan janji untuk bertemu. Ketika driver ojek online tersebut datang, ia meminta mereka untuk menceritakan apa yang telah terjadi dan berapa kerugian yang mereka dapatkan. Jika pesanan dari konsumen mereka berupa makanan, mereka dapat memberikannya kepada Edho Zell untuk ia bagikan kepada pihak yang membutuhkan. Kemudian kerugian yang didapatkan oleh driver tersebut akan ia gantikan sesuai dengan jumlah kerugiannya. Secara tidak langsung, melalui video yang ia unggah, Edho mengimbau kepada orang-orang untuk tidak melakukan prank atau pembatalan secara sepihak. Hal tersebut dikarenakan, tindakan yang mungkin saja dianggap sebagai kegiatan menyenangkan, namun ternyata merugikan banyak pihak.

Prank ojek online merupakan fenomena yang marak terjadi belakangan ini. Banyak youtubers yang melakukan prank terhadap driver ojek online, hingga driver tersebut menangis. Kemudian, mereka akan memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi atas perbuatannya. Namun, tentu saja tidak semua hal dapat digantikan dengan uang, seperti performa mereka yang turun. Pasalnya ketika seorang driver mendapatkan pembatalan pesanan sesuai batas yang ditentukan, maka akun mereka pada aplikasi ojek online akan tidak dapat digunakan dalam jangka beberapa hari. Hal ini tentu saja merugikan sang driver tersebut.

Sikap yang ditunjukkan oleh Edho Zell memiliki perbedaan dengan public figure lainnya. Bila yang lainnya menunjukkan aksi protes dengan mengunggah tulisan di media sosial, lain dengan Edho. Ia menunjukkan sikap tidak setujunya terhadap prank ojek online dengan membuat beberapa video. Dalam video tersebut ia menunjukkan sikap empatinya dan juga memberikan semangat kepada driver yang pernah terkena prank. Setelah itu ia akan mengganti kerugian yang dialami oleh driver tersebut. Hal ini sejalan dengan teori face negotiation. Di mana menurut Goffman dalam West & Turner (2008: 161) bahwa muka (face) adalah citra dari diri yang ditunjukkan orang dalam interaksinya dengan orang lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa muka di sini adalah apa yang ingin ditunjukkan kepada orang lain. Atau bisa disebut sebagai bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain. Dalam responsnya terhadap prank ojek online Edho terlihat ingin menunjukkan muka atau citra positif. Secara tidak langsung ia ingin dilihat sebagai seorang youtubers yang tidak mengambil keuntungan dengan merugikan orang lain. Selain itu ia ingin dilihat sebagai seorang youtubers yang baik dan bermawan. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana ia kemudian menggantikan kerugian yang didapatkan oleh para driver yang pernah menjadi korban prank.

Dikatakan bahwa, dalam teori face negotiation ini terdapat suatu istilah yang disebut dengan Kepedulian akan Muka dan Kebutuhan akan Muka. West & Turner (2008: 162) mengartikan Kepedulian akan Muka sebagai kepentingan untuk mempertahankan muka oranglain. Hal ini terlihat dengan bagaimana Edho berusaha untuk mempertahankan muka atau citra dari sesama youtubers dengan membuat video yang positif. Di mana ia ingin menunjukkan bahwa tidak semua youtubers mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang lain. Kebutuhan akan Muka diartikan sebagai keinginan untuk berkumpul dengan orang lain. Dengan kata lain setiap orang memiliki keinginan untuk diakui. Di mana Edho, di dalam video Youtube yang ia buat berusaha untuk menampilkan muka positif. Sehingga dapat dikatakan ia ingin diakui dalam perjalanannya sebagai youtubers. Ia ingin diakui sebagai seorang youtubers yang baik, dermawan dan tidak membuat konten yang merugikan orang lain. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana dalam video berjudul “Prank Ojol Cancel? Lima Ojol Sekaligus” dan “Curhat Ojol Kena Prank Cancel, Hati-Hati Modus Baru” ia bersikap baik dan mendengarkan curhat dari driver ojek onlie. Selain itu ia juga menggantikan kerugian yang didapatkan oleh para driver.

Dalam teori face negotiation disebutkan bahwa ada dua jenis muka, yaitu muka positif dan muka negatif. “Muka positif adalah keinginan untuk disukai dan dikagumi oleh orang-orang penting dalam hidup kita. Sedangkan muka negatif merujuk pada keinginan untuk memiliki otonomi dan tidak dikekang” (West & Turner, 2008: 162). Hal tersebut terdapat di dalam pada setiap orang yang memebentuk citra mengenai dirinya. Tidak terkeduali Edho Zell. Dalam dua video mengenai prank ojol yang diunggah oleh Edho, dalam membentuk muka positifnya, ia menunjukkan sikap yang baik dan dikagumi oleh banyak orang. Sedangkan muka negatif yang ia tunjukkan adalah bagaimana dalam pemilihan tema mengenai konten yang ia buat, ia tidak ingin terpengaruh akan trend dan sikap dari youtubers lainnya.

Ketika muka positif dan muka negatif seseorang sedang terancam, mereka cenderung mencari berbagai cara untuk mengembalikan muka mereka atau rekan mereka. Hal tersebut disebut sebagao facework. Menurut West & Turner (2008: 163) facework berkaitan dengan bagaimana orang membuat apa pun yang mereka lakukan konsisten dengan muka mereka. Edho Zell dalam hal ini terlihat ingin dipandang sebagai seorang youtubers dengan citra positif. Sehingga hal itu sejalan dengan apa yang ia tunjukkan di video-video yang ia unggah. Sebagai contoh, di sebagian besar besar videonya, ia akan memulai video dengan berdoa. Kemudian hampir semua videonya bernada positif dan tidak ada hal yang merugikan oranglain. Sehingga dalam sikap yang ia tunjukkan, dapat dikatakan konsisten dengan citra yang ia inginkan orang tangkap dari dirinya.

West & Turner (2008: 164) menyatakan bahwa di dalam teori ini terdapat beberapa asumsi. Asumsi tersebut antara lain:

1. Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda. Bisa dikatakan, ada keyakinan bahwa setiap individu di dalam budaya memiliki beberapa citra diri yang berbeda dan bahwa para individu menegosiasikan cara ini secara terus-menerus. Dalam hal ini, Edho Zell berasal dari suku Tionghoa. Banyak stereotip yang menyatakan bahwa orang Tionghoa merupakan orang yang kurang rela mengeluarkan uang untuk orang lain, atau dapat dikatakan pelit. Dalam berbagai video yang dia unggah, Edho Zell sering kali membagikan rezeki yang ia punya ke orang lain. Tidak terkecuali pada video responnya terhadap prank ojek online. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari sikap Edho Zell yang menegosiasikan muka atau citranya. Di mana ia ingin mengubah citra negatif seorang Tionghoa yang melekat pada dirinya menjadi citra yang positif.

2. Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan (muka). Hal ini berkaitan dengan dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Maka perlu ada yang disebut dengan penyelamatan muka. Penyelamatan muka mencakup usaha-usaha untuk mencegah peristiwa yang dapat menimbulkan kerentangan atau merusak citra seseorang. Selain itu dikatakan ada juga yang disebut dengan pemulihan muka. Di mana hal ini terjadi setelah muka berhasil diselamatkan. Bila dilihat dari video mengenai respons Edho terhadap prank ojek online, dapat dilihat bahwa video pertama yang berjudul “Prank Ojol Cancel? Lima Ojol Sekaligus” mendapat banyak dislike, yaitu sekitar 3.400. Hal ini dikarenakan banyak orang yang telah menganggap bahwa video tersebut merupakan video yang tidak baik, dilihat dari judulnya. Meski hal tersebut merupakan kesalahpahaman, namun tentu saja membuat nama Edho Zell sedikit tercoreng. Edho kemudian melakukan tindakan penyelamatan muka atau biasa disebut dengan pemulihan muka dengan mengunggah video kedua yang berjudul “Curhat Ojol Kena Prank Cancel, Hati-Hati Modus Baru”. Meski video ini memiliki tujuan yang hampir sama dengan video sebelumnya. Namun, Edho memilih judul yang lebih positif. Sehingga orang-orang akan lebih tertarik untuk menontonnya. Selain itu, orang-orang tidak akan berkomentar negatif sebelum menonton video tersebut hingga usai. (*)

Komentar ANDA?