Home / Ekbis / Gunakan Air Selokan, Tempat Produksi Tempe Terancam Ditutup

Gunakan Air Selokan, Tempat Produksi Tempe Terancam Ditutup

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Rince Kaseh

NTTTERKINI.COM, Kupang – Tiga lokasi produksi tempe di Kelurahan Bakunase, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang viral di media sosial (Medsos) terancam ditutup, akibat kedapatan memproduksi tempe menggunakan air limbah selokan.

“Ada tiga lokasi yang terpaksa akan kami segel dan langsung ditutup, jika masih memproduksi  tempe menggunakan air limbah selokan,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kupang, Felisberto Amaral, Rabu, 15 Mei 2019.

Menurut dia, berdasarkan laporan warga dan setelah di tinjau, ketiga lokasi produksi tempe tersebut menggunakan air limbah selokan selama proses  pembuatan tempe dari pencucian bahan baku tempe yakni kacang
kedelai hingga menjadi tempe yang siap dipasarkan. Didapati pula air bekas, setelah proses pembuatan tempe dibuang kembali di selokan yang sama.

Baca Juga :  Komunitas, Lokomotif Penggerak Ekonomi Kreatif Belu

Lurah Bakunase, Rince Kaseh mengatakan salah satu pemilik usaha produksi tempe yang berlokasi di jalan Untung Surapati, Kelurahan
Bakunase, Yanti Lenama, dan beberapa pengusaha tempe lainnya, sudah pernah diperingati berulang kali untuk menggunakan air bersih dalam proses pengolaan tempe, namun hingga saat ini masih kedapatan menggunakan air limbah sebagai sarana proses pengolaan tempe.

“Memang benar ada didapati para pengusaha tempe di lokasi tersebut menggunakan air limbah dalam prosuksi tempe, sebenarnya sudah kami peringati berulang kali baik melalui lisan maupun tulisan, namun itu menjadi pola perilaku,” kata Rince Kaseh.

Rince mengaku telah mencabut ijin keterangan usaha yang telah diterbitkan oleh kelurahan. Sedangkan untuk ijin resminya harus diurus di Badan Perijinan Satu Pintu.

Baca Juga :  Tak Lulus CPNSD, 400 Honorer Dinas Kebersihan Dipertahankan

Selama lima tahun, hasil produksi tempe tersebut dipasarkan ke pasar tradisional antara lain pasar Inpres dan pasar Kuanino. Bahkan
penjualannya juga dilakukan dengan pola jualan keliling dengan jumlah produksi perhari sebanyak 30 Kilogram (kg) setiap hari.

Pantauan di lokasi pembuatan tempe, terdapat dua selokan di bagian depan dan belakang yang digunakan untuk pembuatan tempe. Tidak tampak aktivitas pembuatan tempe di daerah itu. (Lid)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]