Home / Polkam / Advetorial Harkitnas: Menuju Kemandirian Dengan Semangat Pengorbanan

Advetorial Harkitnas: Menuju Kemandirian Dengan Semangat Pengorbanan

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

20 mei kebangkitanKupang – Tanggal 20 Mei, kita memperingatinya sebagai hari kebangkitan nasional. Kita mengingat kembali salah satu momentum bangsa ini untuk menjadi bangsa merdeka, bebas dari penjajahan bangsa lain. Namun, peringatan hari kebangkitan nasional yang dirayakan setiap tahunnya. Di NTT, misalnya, perayaan hari kebangkitan nasional selalu dirayakan dengan melakukan upacara, dan aneka kegiatan dan perlombaan.

Harkitnas yang dirayakan secara seremonial ini dirasakan belum cukup memaknai jasa para pahlawan yang berjuang untuk memerdekakan negara ini. Karena masih banyak persoalan yang butuh perhatian serius dari anak-anak bangsa ini, termasuk tokoh-tokoh dan anak-anak di NTT. Masalah pendidikan dan kemiskinan, misalnya. Dua masalah ini yang paling serius harus ditangani oleh tokoh-tokoh di daerah ini. Pasalnya, NTT hingga tahun 2011-2012 lalu, masih menjadi juru kunci prosentase kelulusan secara nasional.

Ujian Nasional (UN) SMA/MA/SMK di Provinsi NTT tahun 2012 lalu. Walaupun prosentase kelulusan mengalami peningkatan sebesar 0,07 persen. Namun, posisi NTT tidak beranjak dari urutan 33 dari 33 provinsi di Indonesia.
Dari jumlah peserta 36.228 orang siswa, lulus sebanyak 34.304 siswa atau 95,50 persen, sedangkan tidak lulus sebanyak 1.994 siswa.

Walaupun berada di urutan terakhir, namun prosentase kelulusan mengalami kenaikan dari tahun ajaran sebelumnya 94,43 persen dengan jumlah siswa peserta UN 32.532. Pemerintah beralasan ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya prosentase kelulusan di NTT, karena kurang tersedianya sarana prasara pendukung peningkatan mutu pendidikan, seperti laboratorium dan perpustakaan sekolah serta klasifikasi guru yang belum penuhi syarat. Dari total 82 ribu guru di NTT, masih sekitar 54 ribu yang belum sarjana (S1).

Baca Juga :  Pemilih Jokowi-JK Dianjurkan ke TPS Lebih Awal

Masalah pendidikan di NTT merupakan masalah serius yang harus di cari solusi agar NTT tidak selalu menjadi “juru kunci” hasil Ujian Nasional. Pemerintah sudah mencobanya dengan membuat terobosan berupa “gong belajar”. Dimana, semua siswa diwajibkan untuk belajar di rumah pada pukul 19.00 Wita. Namun, kondisi ini belum juga menyelesaikan persoalan pendidikan di NTT.

Prosentase kelulusan UN tahun 2013 diharapkan mengalami peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Namun, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan prosentase UN bakal kandas. Pasalnya, pelaksanaan Ujian Nasional yang amburadul, sehingga terjadi penundaan selama dua kali, setelah naskah UN terlambat tiba di kabupaten/kota hingga sekolah-sekolah pelaksana UN. Carut-marutnya pendistribusian naskah UN dari pemerintah pusat diduga akan menjadi penghambat peningkatan prosentase kelulusan di NTT. Namun, pemerintah tetap optimis hasil UN tahun 2013 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga!!!

Masalah lain yang harus mendapat perhatian tokoh-tokoh di NTT yakni kemiskinan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah melalui berbagai program pembangunan yang menyentuh hingga pedesaan dan keluarga miskin, seperti dengan semangat “angggaran untuk rakyat menuju sejahtera” (Anggur merah) yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay yang dijabarkan dalam 8 agenda pembangunan dan 4 (empat) tekad pembangunan di Provinsi NTT.

8 Agenda pembangunan meliputi, SDM yang berkualitas, Peningkatan kesehatan; Ekonomi kerakyatan; Pembangunan dan peningkatan infrastruktur; Supremasi hukum; Tata ruang dan lingkungan hidup; Kesetaraan gender; dan Penanganan masalah : kemiskinan, wilayah perbatasan, provinsi kepulauan, daerah rawan bencana. Sedangkan 4 (empat) tekad pembangunan, meliputi, NTT sebagai provinsi jagung; Memulihkan NTT sebagai gudang ternak; Mengembalikan keharuman cendana; dan Menjadikan NTT sebagai provinsi koperasi.

Baca Juga :  Harga Bawang Tembus Rp 100 Ribu Per Kg

Upaya pemerintah itu terbilang cukup berhasil dengan menurunnya angka kemiskinan di NTT, seperti 2008 angka kemiskinan di NTT 25,65 persen dan tahun 2012 turun menjadi 20,48 persen. Sejalan dengan meningkatnya, pendapatan perkapita masyarakat yang mengalami kenaikan dari Rp 4 juta menjadi Rp 6 juta. Namun, kenaikan itu belum mampu menuntaskan masalah kemiskinan di daerah ini.

Dua persoalan ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah dan masyarakat NTT untuk menghilangkan stigma miskin dan juru kunci hasil UN. “Perjuangan memerlukan pengorbanan”. Kata yang tepat bagi NTT untuk terus maju, seperti yang dilakukan Boedi Utomo dan Ir Soekarno yang mempelopori “Kebangkitan Nasional”. Dimana, masa Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hari kebangkitan nasional perlu kita jadikan momentum untuk mengingat jasa para pahlawan dengan pengorbanannya. Hasil dari pengorbanan mereka tidak mereka nikmati sendiri, namun dirasakan oleh seluruh penghuni negeri ini. Ini lah semangat juang para pahlawan sejati yang akan menjadi pupuk bagi tumbuhnya kejayaan negeri ini. (by Jhon Seo)

Kerjasama NTTTERKINI.COM dengan Dinas Informasi dan Komunikasi Nusa Tenggara Timur.

Komentar ANDA?

Tags : # # #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]