Home / Sosbud / Hukuman Mati Walfrida Ditangguhkan

Hukuman Mati Walfrida Ditangguhkan

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Ayah dan Ibu Walfrida

Ayah dan Ibu Walfrida

NTTTERKINI.COM, Jakarta – Pembacaan putusan sela Wilfrida Soik, tenaga kerja Indonesia yang menjadi terdakwa pembunuhan di Malaysia, hari ini ditangguhkan. Hakim mengabulkan sejumlah permohonan pengacara Wilfrida. Sidang dilanjutkan pada 17 November 2013 mendatang.

“Ini kesempatan bagi tim pembela dan pemerintah untuk lebih optimal memberi bantuan hukum kepada Wilfrida,” kata anggota Komisi Tenaga Kerja DPR Rieke Diah Pitaloka, dalam rilis yang dikirim hari ini, Senin, 30 September 2013. Rieke menghadiri sidang putusan sela di Mahkamah Kota Bharu, Klantanm Malaysia, yang mengadili perkara Wilfrida. Sidang hari ini berlangsung selama 30 menit.

Rieke menuturkan, ada sejumlah permohonan pengacara yang dikabulkan hakim, antara lain bone examination atau uji tulang untuk membuktikan usia secara medis. Selain itu, juga akan dilakukan uji psikologis oleh ahli yang disepakati jaksa dan tim pembela serta data audio dan video semua proses persidangan sebagai bahan bagi pembela Wilfrida dan pertimbangan hukum melalui yurisprudensi kasus Encik Ramli pada 1986.

Baca Juga :  KIP Desak NTT Bentuk Komisi Informasi

Dengan penundaan ini, dakwaan jaksa untuk menghukum mati Wilfrida bisa ditangguhkan. Rieke berharap semua pihak yang terlibat menyelamatkan Wilfrida fokus untuk menyelamatkan tenaga kerja Indonesia ini. Dia menilai momentum ini bisa menjadi kesempatan untuk meletakkan hubungan yang lebih baik antara Indonesia dan Malaysia, dengan berlandaskan keadilan dan kemanusiaan.

Politikus PDI Perjuangan ini menambahkan, perkara Wilfrida bisa menjadi pintu pembuka perdagangan manusia dari Indonesia ke Malaysia. Tahun lalu, kata dia, dari 105 korban perdagangan manusia yang diselamatkan di Klang, 80 orang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Wilfrida terancam hukuman mati di Malaysia setelah mendorong majikannya, Yeap Seok Pen, 60 tahun, pada 7 Desember 2010. Wilfrida kerap dimarahi dan dipukuli oleh sang majikan. Namun, pada saat kejadian, Wilfrida mengaku membela diri dan mendorong majikannya hingga meninggal. Wilfrida sudah menjalani beberapa kali persidangan di Malaysia. Saat pembunuhan terjadi, usia Wilfrida genap 17 tahun.

Baca Juga :  Alumni FH Undana Capai 4.228 Orang

Buruh migran asal NTT itu diberangkatkan secara ilegal, 23 Oktober 2010 lalu. Wilfrida yang saat itu masih belum 17 tahun, dipalsukan umurnya menjadi 21 tahun. Dia menjadi korban perdagangan manusia. (Teco)

Komentar ANDA?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]