Indonesia Urutan Tiga Akses Situs pornografi

0
1436
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

NTTTERKINI.COM, Kupang – Indonesia saat ini masuk kategori darurat pornografi untuk anak-anak, karena berada pada urutan ketiga paling banyak mengakses situs-situs pornografi.

“Indonesia sudah darurat pornografi yang mengancam anak-anak. Karena Indonesia masuk urutan tiga paling banyak mengakses pornografi dan itu dilakukan oleh anak-anak,” kata Ketua Badan Pengurus Nasional Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), Haryati Kristianto di Kupang, Selasa, 19 Juli 2016.

Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) Regional NTT bekerjasama dengan Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) menggelar seminar Kajian Teologi Anak Kontekstual dalam rangka Hari Anak Nasional 2016.

Karena itu, menurut dia, Gereja dan pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap masalah ini terutama dalam pelayanan terbaik bagi anak. “Gereja, perlu mendorong pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengatasi pornografi anak,” ujaranya.

Keprihatinan terbesar saat ini, kata dia, anak bukan hanya sebagai korban, tetapi juga pelaku kekerasan. Atas keprihatinan itu, dia mengajak agar gereja meningkatkan pelayanan dan memberikan perhatian yang komperhensif bagi anak dalam seluruh kebijakan pelayanannya. “Pelayanan untuk anak harus diberikan seutuhnya,” katanya.

Ketua Sinode GMIT, Pdt Mery Kolimon mengatakan dalam diri anak terdapat kapasitas Illahi serta Tuhan mempunyai rencana khusus untuk kehidupan setiap anak dan rencana Allah itu adalah rencana damai sejahtera.

Namun dalam kenyataan, kata Kolimon, Gereja saat ini justru harus bergumul dengan pandangan budaya tentang anak. Bahkan pandangan budaya ikut mempengaruhi sikap gereja terhadap anak. “Anak di NTT masih dianggap sebagai manusia kelas tiga,” katanya.

Pendeta Kolimon menegaskan tanggungjawab gereja dan juga pemerintah dan masyarakat terhadap anak di NTT saat ini adalah memberikan pelayanan yang sepenuhnya bagi anak termasuk pengasuhan terhadap anak yang holistic. “Anak bukan hanya sasaran pelayanan tetapi juga adalah pelaku pelayanan,” ujarnya.

General Manager WVI Zona Timor dan Sumba, Eninofa Rambe dan Manager WVI ADP Kupang, Raditya Paramandaru menjelaskan kegiatan ini diharapkan dapat membantu para pelayan di Gereja agar dapat memiliki pemahaman yang komperhensif tentang pelayanan yang berperspektif anak. “Pelayanan bagi anak diharapkan komperhensif baik dari aspek teologis, budaya maupun hukum formal,” katanya.

Kegiatan ini hadiri utusan gereja-gereja dan organisasi peduli anak dari wilayah Timor, sumba dan juga Alor. (*/Ado)

Komentar ANDA?