Home / Hukrim / Kasus NTT Fair, Pengamat: Keterangan Yulia Afra Diragukan

Kasus NTT Fair, Pengamat: Keterangan Yulia Afra Diragukan

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Karolus Kopong Medan

NTTTERKINI.COM, Kupang – Pengamat Hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Karolus Kopong Medan menilai keterangan yang disampaikan mantan kepala dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP) terkiat dugaan keterlibatan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya sangat diragukan, karena tak didukung dengan bukti yang cukup.

“Keterangan saksi-saksi yang mengungkap keterlibatan Frans Lebu Raya, tidak didukung oleh bukti-bukti yang akurat dan memadai,” kata Karolus kepada wartawan, Sabtu, 16 November 2019.

Menurut dia, keterangan terdakwa Yulia Afra yang melibatkan mantan Gubernur NTT yang sejak awal kasus ini mencuat digembar-gemborkan sebagai orang yang ikut terlibat dalam kasus tersebut, justru semakin tidak terbukti.

Berbagai keterangan yang terungkap selama persidangan memperlihatkan bahwa tidak cukup bukti untuk menjadikan mantan gubernur NTT dua periode itu sebagai tersangka, sekalipun dalam sidang terdakwa Yuli Afra masih mengungkapkan beberapa kali menyerahkan fee proyek NTT Fair kepada Lebu Raya baik melalui ajudan maupun menyerahkan sendiri di ruangan kerja gubernur.

Baca Juga :  Blokir Bandara Turelelo, Berkas Anggota Pol PP Lengkap, Bupati?

“Keterangan terdakwa Yuli Afra tersebut tentunya tidak serta-merta memiliki nilai pembuktian atas kasus korupsi NTT Fair,” katanya.

Keterangan yang demikian itu baru bisa bernilai pembuktian, ketika keterangan itu di dukung dan memiliki keterkaitan yang erat dengan alat bukti yang lain, seperti keterangan terdakwa lain, keterangan para saksi, alat bukti surat, dan sebagainya.

“Majelis hakim tentunya tidak percaya begitu saja dengan keterangan terdakwa Yuli Afra tesebut. Apalagi keterangannya itu tidak didukung oleh bukti petunjuk lain untuk membenarkan pemberian fee kepada mantan gebernur FLR itu sungguh benar adanya. Misalnya, saat memberikan fee itu disaksikan oleh orang lain, ada namanya terdaftar di buku tamu saat penyerahan fee, ada bukti kwitansi, dan sebagainya,” ujarnya.

Keterangan Yuli Afra di persidangan bahwa Lebu Raya sempat berulang-ulang menyampaikan terima kasih atas pemberian fee proyek tersebut, tidak ada bukti petunjuk yang bisa digunakan untuk meyakinkan majelis hakim bahwa benar Lebu Raya menyampaikan hal itu kepada Yuli Afra.

Baca Juga :  Polisi Amankan Pelaku Pembobolan Mobil

Bahkan sangat mengherankan ketika mantan Kadis PRKP tersebut tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah uang yang sudah diserahkan kepada FLR. Dia bahkan hanya memperkirakan saja jumlah uang yang diberikan kepada FLR kurang lebih di atas Rp 100 juta.

Karena itu, kata dia, keterangan terdakwa Yuli Afra tersebut patut diragukan kebenarannya, karena selain sering berubah-ubah atau tidak konsisten juga tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan.

Akibatnya, banyak keterangan dari terdakwa Yuli Afra dalam perspektif hukum acara pidana tidak bernilai pembuktian. “Dalam hal ini berarti, keterangannya itu tidak dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu peristiwa hukum,” tegasnya. (Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]