Ketua PMKRI Kupang Diduga Dianiaya Anggota Satlantas

0
418

Ketua PMKRI saat Dirawat di RS

NTTTERKINI.COM, KUPANG- Ketua PMKRI Kupang, Adrianus Oswin Goleng melaporkan Brigpol Polce Adu, Cs anggota Satlantas Polres Kupang ke Propam Polda NTT dengan Nomor Laporan: STPL/3/I/Huk.12.10./2020/Yanduan, Minggu, 20 Januari 2020.

Oswin mengaku dianiaya di dalam kantor Satlantas Polres Kupang Kota. Ia menuturkan, peristiwa tersebut berawal dari kendaraan roda dua yang dikendarainya ditilang oleh anggota Satlantas Polres Kupang Kota di depan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang karena tidak mengenakan helm, Sabtu sekitar jam 11.00 Wita.

Saat itu, ia sempat meminta blanko tilang. Namun, oknum Polantas mengaku tidak membawa blanko tilang. Ia kemudian diarahakan untuk mengambil blanko di Kantor Satlantas Polresta.

“Motor saya akhirnya dibawa anggota Polantas ke kantor Lantas. Saya juga bergegas ke Kantor Satlantas untuk mengambil blanko tilang,” tuturnya.

Ia mengatakan, di Kantor Satlantas, ia menanyakan mekanisme atau SOP penilangan yang berlaku. Ia juga sempat mempertanyakan penilangan tanpa papan informasi bahkan tanpa blanko tilang.

“Saya tidak diberikan blanko tilang malah diarahkan ke kantor Satlantas. Lokasi tilang juga sama sekali mengabaikan kepentingan umum. Karena, di sekitar lokasi rawan kecelakaan. Lokasi itu tepat di pertigaan jalan menurun dan berhadapan langsung dengan Gereja Katedral yang mana orang kristiani butuh ketenangan menjalankan aktivitas rohani,” kata Ketua PERMADA Kupang itu.

Sebagai orang awam, kata dia, ia hanya mau memperoleh alasan dan informasi secara utuh dari pihak Satlantas agar tidak menimbulkan kecurigaan dan penilaian negatif. Namun hal ini diabaikan bahkan dipukul, diintimidasi hingga diusir.

Mendengar pertanyaannya, kata dia, anggota Polantas bernama Polce Adu menanggapi arogan dengan mengeluarkan bahasa yang tidak etis.

“Kau datang hanya bikin ribut saja goblok,” sebut Oswin meniru ucapan Polce.

Tidak menerima perkataan itu, korban pun membalas ujarannya. “Pak, mohon lebih etis dalam berbahasa, sebetulnya kamu yang goblok,” tuturnya.

Tak menerima pernyataanya, Polce bersama beberapa rekannya bereaksi dengan melakukan kekerasan fisik. Oswin kemudian diusir korban keluar kantor secara tidak manusiawi.

“Saya bersama saksi langsung melapor kejadian ini ke Polda NTT. Setelah buat laporan, saya diarahkan ke RS. Bhayangkara untuk divisum. Hasilnya, terdapat beberapa luka memar di sekitar leher, dada, dan perut,” katanya.

Ia meminta Polda NTT melalui Propam segera mengusut dan menindak tegas para pelaku sesuai aturan berlaku.

“Ini tindakan memalukan. Oknum polisi sama sekali tidak mencitrakan spirit lembaga, melindungi, mengayomi, dan melayani. Lebih dari itu, adalah memberikan edukasi bukan malah direpresif,” ucapnya.

Saksi mata, berinisial JO membenarkan kejadian tersebut. “Ya, saya melihat korban dipukul dan diusir oleh beberapa oknum Satlantas,” terangnya.

Ia berharap Polda NTT segera menindak tegas Polce, Cs guna menjaga marwah lembaga kepolisian. “Jika dibiarkan, ini menjadi preseden buruk terhadap pelaksanaan tugas kepolisian,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat PMKRI Kupang dan elemen lainnya akan menggelar aksi demonstrasi untuk mengecam tindakan represif yang dilakukan oleh oknum Satlantas terhadap Ketua PMKRI Cabang Kupang.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Iptu Andry Ardiyansyah membantah anggotanya melakukan penganiayaan.

“Intinya itu tidak ada pemukulan. Kronologis tidak seperti itu. Intinya dia melanggar, tapi tidak terima ditahan, intinyaa itu. Hati-hati, itu bukan kronologia dari pemerikasaan kepolisian. Ini bisa saya balikkan pencemaran nama baik,” tandasnya. (DT/Ado)

Komentar ANDA?