Home / Sosbud / Korban Bencana di NTT Mencapai 6 Ribu Orang

Korban Bencana di NTT Mencapai 6 Ribu Orang

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Ilustrasi

NTTTERKINI.COM, Kupang – Berdasarkan database Bencana Indonesia (DIBI) mencatat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 11 risiko bencana dan sudah mengalami sekitar 651 kali kejadian bencana sejak 1950-2017. Tercatat lebih dari 6000 jiwa sudah menjadi korban, serta berbagai kerusakan aset dan infrastruktur. 
 
Demikian dikatakan Silvia Fanggidae,

Penasehat Teknis Penanganan Bencana DFAT di BPBD NTT, Rabu, 30 Mei 2018.

 
Menurut dia, Kajian Risiko Bencana NTT yang direvisi tahun 2017 menghitung bahwa 75 persen kejadian bencana yang tercatat merupakan bencana-bencana hidrometerologis yang berhubungan dengan faktor-faktor iklim, seperti hujan, angin dan kekeringan. “Bencana-bencana ini adalah yang berulang atau musiman,” kata Silvi.

Dalam menghadapi risiko bencana berulang, penting untuk memiliki kapasitas memadai untuk merespon atau menanggapi dengan cepat dan tepat.

Baca Juga :  HH : Elit Lokal Sibuk Rebut Kekuasaan Di Daerah Perbatasan

Untuk itu pemerintah, baik pusat maupun daerah, menyediakan Dana Siap Pakai (DSP) yang bisa digunakan untuk kondisi siaga darurat, darurat maupun transisi ke pemulihan.

Sayangnya, dalam beberapa kasus bencana, BPBD masih mengalami kesulitan mengakses DSP ini, baik karena prosedur-prosedur DSP maupun kualitas proposal tanggap darurat.

Karena itu, dengan dukungan Program TCP – DFAT dari Pemerintah Australia, BPBD Provinsi NTT mengadakan Bimtek DSP dan Penyusunan Proposal Tanggap Darurat.

Bimtek ini diikuti oleh BPBD dari 22 kabupaten/kota di NTT. Narasumber dan fasilitator adalah Bapak Tavip Joko Prahoro, SE, MM, Direktur Penanganan Pengungsi, Deputi Tanggap Darurat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pak Jemmy Mella, Kepala Bidang Tanggap Darurat dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Prov NTT.

Baca Juga :  Gempa 4,2 SR Guncang Larantuka

“Bimtek dilaksanakan di Kota Kupang pada 30–31 Mei 2018. Dia berharap para peserta mendapatkan pemahaman yang baik tentang syarat dan prosedur penggunaan DSP, baik di kabupaten, provinsi maupun DSP dari pusat.

“Peserta juga diharapkan memahami alur pikir penyusunan proposal yang baik, sistematika yang sesuai dengan petunjuk atau panduan yang ada, serta mampu menterjemahkan kebutuhan korban bencana menjadi rencana tanggap darurat yang baik,” katanya.

Secara umum, Bimtek ini diharapkan meningkatkan kemampuan BPBD Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT untuk bisa lebih bersiap siaga, serta cepat dan tepat merespon kejadian bencana di NTT.

“Dengan demikian, layanan terhadap korban bencana dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dalam kondisi bencana bisa lebih layak dan baik,” ujarnya. (*/Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]