Home / Sosbud / Korban Pelanggaran HAM di NTT Buka Suara

Korban Pelanggaran HAM di NTT Buka Suara

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
KKPK ketika memberikan keterangan Pers kepada wartawan

KKPK ketika memberikan keterangan Pers kepada wartawan

NTTTERKINI.COM, Kupang – Korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 27 April 2013 akhirnya membuka suara terkait kasus yang dialaminya yang membuat trauma sejak tahun 1965 hingga tahun 2005.

“Para korban itu akan membuka tabir peristiwa yang dilakukan oleh para pelaku yang hingga saat ini masih berkeliaran dan menghirup udara bebas,” kata Pendeta Mery Kolimon, salah satu anggota KKPK saat menggelar Jumpa Perss di Kupang, Kamis, 25 April 2013.

Para korban akan membuka suara, pada kegiatan yang digelar di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Sabtu, 27 April 2013.

Baca Juga :  Rem Blong, Mobil Damkar Kota Kupang Hantam Pohon

Menurut dia, para korban akan menceritakan bagaimana mereka mengalami peristiwa tersebut. Selain para korban, kegiatan mendengarkan kesaksian publik itu juga akan dihadiri oleh para pelaku kekerasan pada tahun 1965 hingga tahun 2005. “Para pelaku juga akan hadir dalam kesaksian para korban,” katanya.

Dia menjelaskan KKPK memiliki misi untuk mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang terjadi pada tahun 1965 hingga tahun 2005. Periode 1965 hingga 2005 dipilih dengan alasan tragedi 1965 merupakan titik tolak jatuhnya rezim orde lama dan mulai terbangunnya rezim orde baru yang ditandai dengan kekerasan masal di Indonesia.

Pada tahun 2005, kata Kolimon, tercapai penandantanganan MoU Helsinki diantara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa kekerasan masa lalu dapat diselesaikan melalui perundingan.

Baca Juga :  KPU Tidak Alihkan Suara Tunas ke Esthon- Paul

Dia memngatakan, ada kesaksian dari 10 orang korban kekerasan atau pelanggaran HAM. Dalam acara itu ada empat jenis kasus yang akan dibuka didepan umum, yakni tragedi 1965, tragedi 1999 yang berhubungan dengan kehadiran pengungsi Timor Leste, Perusakan Sumber Daya Alama (SDA) di Mollo Utara, dan Pemaksaan Keluarga Berencana (KB). “Ada 10 orang saksi korban kekerasan yang akan buka suara atas tragedi yang dialami mereka,” katanya. (Dem)

Komentar ANDA?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]