Home / Hukrim / Mateos: Saya Bersumpah Tidak Aniaya Guru SMAN 4

Mateos: Saya Bersumpah Tidak Aniaya Guru SMAN 4

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Ilustrasi

NTTTERKINI.COM, Kupang – Mateos Tuflasi, ayah MT yang dituduh melakukan penganiayaan kepada seorang Guru di SMAN 4 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Makrina Bikan, karena memukul anaknya, mengaku tidak pernah memukul atau menendang Makrina.
 
“Saya berani bersumpah tidak pernah memukul atau menendang ibu Makrina. Saya sudah ajak ibu itu untuk bersumpah di gereja, tapi di tolak,” kata Mateos kepada media ini, Sabtu, 20 Oktober 2018.
 
Kasus yang terjadi pada 18 Oktober 2018 itu berawal dari anaknya MT hendak memasuki ruang perpustakaan, namun terhalang oleh guru Makrina yang berada depan ruang itu. Setelah meminta ijin beberapa kali untuk lewat, tapi dicuekin Makrina, sehingga MT memaksa masuk, dan mungkin menyenggol guru itu. Makrina langsung mengikuti MT dan menamparnya di bagian di pelipis hingga mengenai bagian mata hingga MT menangis.

MT lalu menelpon orang tuanya melaporkan kasus itu. Mateos kemudian mendatangi sekolah anaknya guna menanyakan kasus pemukulan anaknya.
 
Saat tiba di SMAN 4 Kupang. Dirinya langsung menemui guru Makrina Bikan yang berada di depan salah satu ruang kelas guna menanyakan kasus pemukukan itu. “Saat itu, ibu Makrina berada di depan kelas, bukan dalam kelas,” katanya. 
 
Saat itu, lanjut dia, sudah ada beberapa orang guru yang juga berada di dekat ibu Makrina. Belum selesai bertanya, tiba-tiba sejumlah guru langsung memukul dan menendang dirinya. “Ada dua orang guru yang menghalangi teman mereka untuk tidak menyerang saya. Satu guru laki-laki, satunya perempuan,” katanya. 
 
Akibat penganiayaan itu, kepala Mateos mengalami benjol dan memar di bagian belakang. “Ini benjolan di kepala dan memar di belakang,” kata Mateos sambil menunjukan bekas memar di bagian belakang dan benjolan di kepala.
 
Setelah melakukan pemukulan Kepala sekolah dan sejumlah guru melaporkan kasus ini ke polisi, dengan laporan bahwa dirinya telah memukul dan menendang ibu Makrina. “Saya sempat ditahan dalam sel Polsek Kelapa Lima,” katanya. 
 
Keluarga yang datang ke Polsek juga diumpat oleh para guru. Padahal, mereka belum mengetahui kasus yang menimpa MT dan Mateos. “Ada sejumlah guru yang meminta polisi penjarakan MT dan dikeluarkan dari sekolah, serta meminta semua sekolah tidak menerima anak saya,” kata Mateos. 
 
Merasa sakit hati karena diperlakukan seperti itu. Mateos dan keluarga lalu melaporkan kasus penganiayaan terhadap dirinya dan kekerasan terhadap anak ke Polda NTT. Namun Polda NTT meminta agar kasus itu dilaporkan ke Polres Kupang Kota. “Jika Polda dan Polres Kupang Kota menolak, maka kami akan laporkan ke Mabes Polri,” katanya.
 
Saat hendak membuat laporan, sejumlah guru SMAN 4 terlebih dahulu membuat laporan polisi. Pada kesempatan itu, lanjut dia, aparat kepolisian menawarkan untuk memediasi agar kasus ini diselesaikan secara damai. “Kami menolak untuk berdamai. Kami sudah sakit hati dengan pernyataan ibu Makrina di media,” tegasnya.
 
Setelah membuat laporan, keduanya langsung di visum. Dia berharap kasus ini bisa lanjut ke pengadilan hingga menbuktikan siapa yang lakukan penganiayaan. “Kami hanya ingin mencari keadilan dari kasus ini. Hukum harus ditegakan,” katanya. 

Dia mengaku sedih, karena informasi bahwa anaknya sudah dikeluarkan dari sekolah, sehingga keluarga menghadap ke Dinas PPO NTT agar MT bisa sekolah lagi, namun disana anak dan kelurga juga ditekan agar mengakui perbuatan MT yang menyenggol dan mengumpat ibu Makrina agar bisa sekolah kembali. “Masa anak kami dipaksa mengakui apa yang tidak diperbuatnya,” tegasnya.
 
Kasus pemukulan terhadap MT sudah yang kedua kalinya dilakukan oleh Guru di SMAN 4 Kupang. Tahun lalu, MT juga sempat di pukul menggunakan kayu oleh guru bernama Herman. Setelah dilakukan mediasi, akhirnya di buat pernyataan untuk tidak lagi memukul MT. 
 
Mateos dan keluarga juga akan melaporkan kasus ini ke Ombusdman, Mentri Pendidikan dan Komisi Perlindungan Anak. (Ado)

Share Button
Baca Juga :  Mantan Rektor PGRI NTT Dituntut 1 Tahun Penjara

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]