Home / Sosbud / MUI Belum Keluarkan Fatwa Soal Ajaran Gafatar

MUI Belum Keluarkan Fatwa Soal Ajaran Gafatar

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Ketua MUI NTT, Abdulkadir Makarim

NTTTERKINI.COM, Lewoleba – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Timur (NTT) belum mengeluarkan fatwa terkait ajaran sesat organisasi Gafatar di sejumlah daerah di Pulau Flores.

“Kami belum keluarkan fatwa soal ajaran organisasi Gafatar itu,” kata Ketua MUI NTT Haji Abdulkadir Makarim, Kamis, 24 Januari 2013.

Pernyataan ketua MUI terkait dengan ajaran organisasi Gafatar di Lewoleba, Lembata yang dinilai sesat, karena ingin menyatukan ajaran-ajaran agama yang ada di Indonesia. Organisasi ini pun mendapat pengawasan dari Kepolisian setempat.

Kapolres Lembata, AKBP Martin Johanis mengatakan kepolisian mencurigai organisasi ini menyebarkan ajaran-ajaran sesat kepada masyarakat, karena ingin menyatukan semua agama di Indonesia. “Kami sedang mengawasi aktivitas organisasi ini,” katanya.

Baca Juga :  Lamafa, Penikam Ikan Paus Di Lamalera

Di Lewoleba, menurut dia, kelompok GAFATAR berjumlah 30 orang, terdiri dari berbagai kelompok masyarakat di Lembata. Namun, mereka belum kantongi ijin resmi dari pemerintah, sehingga segala bentuk aktivitasnya di larang. “Beberapa kali mereka minta ijin kegiatan, namun kami tolak, karena takut menimbulkan reaksi masyarakat,” katanya.

Walaupun dianggap mengajarkan aliran sesat, namun pihaknya tidak bisa menangkap anggota kelompok organisasi ini, karena belum termasuk organisasi terlarang. “Kami akan proses mereka, jika disebut sebagai organisasi terlarang,” katanya.

Wakil bupati Lembata, Viktor Mado Wutun mengatakan organisasi gafatar diketahui sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bukan organisasi yang menyebarkan agama atau aliran sesat.

Karena itu, Pemerintah masih menunggu fatmah dari MUI NTT terkait organisasi tersebut. “Jika MUI mengatakan terlarang, maka kami akan membubarkan organisasi dan memproses anggotanya,” katanya.

Baca Juga :  Jasa Raharja Siapkan Pelayanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik

Aktivitas organisasi ini, kata Viktor, tidak hanya di Lembata, tapi juga di Ende, Sikka, dan Flores Timur. Namun, kegiatan mereka selalu diawasi oleh polisi. “Mereka selalu berppindah-pindah, hampir di seluruh daratan Flores,” katanya. (Ado)

Komentar ANDA?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]