NTT Masih Kekurangan APD Tangani ODP Corona

0
1089

Melki Laka Lena

NTTTERKINI.COM, Kupang –  Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih kekurangan alat pelindung diri (APD) dalam penanganan Orang Dalam Pemantau (ODP) Corona atau Covid 19. 
Kepala Dinas Kesehatan NTT, Domi Mere mengatakan NTT masih sangat membutuhkan APD bagi dokter dan perawat yang menangani pasien dengan ODP Corona.
APD yang dibutuhkan di 25 Rumah Sakit daerah dan swasta, antara lain baju cover all sebanyak 62.232 buah, masker N95 sebanyak 96.734, masker bedah 549.980, sepatu bot 39.427, sarung tangan non steril 626.600, sarung tangan steril 401.200, sarung tangan panjang (obgyn) 90.180 dan kaca mata google 43.590 buah. 
Karena itu, dia meminta bantuan pemerintah pusat dan komisi IX DPR RI untuk membantu kekurangan APD di daerah ini. “Kami masih kekurangan banyak APD untuk tangani pasien di RS di NTT,” katanya saat penyerahan buku panduan penanganan covid-19 oleh Wakil Ketua Komisi IX, Melki Laka Lena belum lama ini.
Dia mengaku sudah banyak permintaan dari seluruh RS di NTT. Namun, karena keterbatasan APD, maka belum bisa penuhi seluruh permintaan tersebut. “Kami sudah diatribusikan APD, namun belum bisa penuhi seluruh permintaan dari RS di NTT,” katanya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melki Laka Lena meminta pemerintah dan pihak swasta agar membantu mempercepat pengadaan dan distribusi alat pelindung diri (APD) dan sarana prasarana yang dibutuhkan di semua fasilitas kesehatan yang membutuhkan, khususnya RS rujukan covid 19. 
“Pemerintah dan pihak swasta yang mampu bisa membantu pengadaan melalui produksi dalam negeri atau impor dan percepat distribusinya,” pintanya. 
Dia berterima kasih kepada semua tenaga kesehatan yan berjibaku di lapangan, juga buat semua relawan kesehatan yang saat ini bersiap untuk ikut terlibat dalam kerja kemanusiaan ini. 
“Semoga Tuhan selalu melindungi semua pihak yang terus bergerak melawan covid 19, seluruh warga Indonesia khususnya para tenaga kesehatan yang menjadi “pasukan tempur terdepan” dalam menangani covid 19,” katanya. 
Dia mengatakan dalan waktu dekat rapid test sebagai screening awal bagi seluruh warga yang punya gejala covid 19 atau yg pernah dari daerah episentrum/ pandemi atau kontak dengan pasien positif covid 19 segera datang dan di pakai di Indonesia. 
“Rapid test massal sebagai bagian dari kebijakan social distancing oleh Presiden Jokowi dan dilaksanakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19. “Mari saling melengkapi untuk mencegah penularan dan mempercepat deteksi plus penanganan pasien covid 19,” harapnya.
Rapid test, menurut dia, punya kelebihan soal waktu, tapi punya kelemahan soal keakuratan dibanding pola PCR yang butuh waktu lebih lama yang digunakan selama ini, tapi lebih akurat. 
Rapid test butuh protokol khusus yang dibuat pemerintah melalui Kemenkes untuk memandu penggunaan dan manfaat rapid test secara proporsional, sehingga butuh edukasi lebih masif dan luas secara cepat, sehingga aspek positif rapid test dapat dimaksimalkan. 
“Butuh edukasi lebih cepat dan lebih awal terkait penggunaan rapid test oleh para ahli dan pengambil kebijakan di level pusat agar langkah pemerintah, masyarakat, elit dan para tokoh berbagai bidang di pusat lebih kokoh bergandengan tangan tangani covid 19 jelang rapid test dipakai di seluruh negeri,” pintanya. (*/Ado)

Komentar ANDA?