Home / Sosbud / Pancasila, Kekuatan Melawan Radikalisme dan Terorisme

Pancasila, Kekuatan Melawan Radikalisme dan Terorisme

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Dialog kebangsaan

NTTTERKINI.COM, Kupang – Dalam menghadapi berbagai Gejolak yang terjadi akhir-akhir ini dengan berbagai tindakan atau gerakan kelompok radikalisme serta teroris di Indonesia menggah kembali pancasila.

Hal ini diungkapkan rector Universitas Widya Mandira Kupang Pater Philipus Tule, SVD dalam dialog Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama Pemuda Lintas agama di Celebes Resto Kupang oleh Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat, 1 Juni 2018.

Menurut dia, nilai dasar yang perlu dipertahankan dalam mengamalkan nilai-nilai kebangsaan yakni pancasila dan undang-undang dasar 1945, menjadi dasar pijakan dalam hidup.

“Jika kita memahami nilai Pancasila maka tidak ada menjadi sebuah perbedaan dalam berbangsa serta dalam dinamika hidup beragama. Karena itu, kita wajib mempertahankan Pancasila menjadi sebagai landas hidup kita, sebagai filsafah seluruh kehidupan social masyatrakat,” ungkapnya.

Semua umat beragama, kata dia, akan merindukan rumah Tuhan untuk kembali setelah hidup dan saat akhir hayat.

Baca Juga :  Pencemaran Laut Timor Dilaporkan ke KPK

Wakil Ketua NU Nusa Tenggara Timur, Jalaludin Bethan mengatakan dalam rangka memperkuat komitmen kebangsaan, negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat.
“Pancasila sudah selesai dan tidak bisa diperdebatkan lagi dalam mempertegas hidup dalm bingkai NKRI,” ungkap Wakil Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang itu.

Hal itu, kata dia, sejalan dengan MUI NTT yang mengeluarkan fatwa untuk menggelorakan ukhwa islamiyah, Ukwah insaniyah dan Ukwah wataniah di tengah-tengah masyarakat, dalam rangka memperkuat hidup kebangsaan sesuai dengan nilai dasar pancasila dan Undang-undang dasar 1945. “Komitmen terhadap pancasila sebagai dasar negara, tapi bukan agama,” katanya.

Islam mengajarkan di dalam kehidupan, agama dan negara tidak berbenturan, karena tidak saling mempertanyakan status agama, budaya dan keberadaan agar tidak keluar dari nilai-nilai histris.

Pemuda GMIT, David Natun mempertegas kembali bahwa dalam kehidupan masyarakat, sosial dan agama diajarkan hidup itu adalah sebuah anugerah agar menjadi sebuah kekayaan dalam hidup.

Baca Juga :  LBH APIK: Perkosaan, Kasus Tertinggi di NTT 

“Perbedaaan itu sebagai anugrah yang dirahmat oleh Yang Maha Kuasa, sesuai dengan keyaninan kita masing-masing,” paparnya.

Agama terkadang menjadi wadah toleransi, tapi kadang juga sebagai wadah sumber suara kepentingan politik, kepentingan ekonomi, kepentingan sosial dalam wahana hidup kebangsaan.

“Karena itu, perubahan menuntut kaum muda untuk mempelopori Gerakan sosial baru untuk menciptakan cinta dan damai di lingkunhan sosial,” katanya.

Kabinda NTT Daeng Rosada mengatakan dalam makna hidup saling membutuhkan satu sama lain. Jika ada yang berusaha merusak tatanan bengsa dan negara baik dari dalam maupun dari luar patut dilawan demi mempertahankan keamanan dan kenyamanan masyarakat.

“Generasi Muda harus wajib mempertahankan Indonesia tetap kokoh, Indonesia tetap aman hingga sampai sekarang,” harapnya.

Persoalan dinamika yang terjadi adalah bagian dari ancaman dan pertarungan untuk wajib mempertahkan Nilai-nilai pancasila dalam empat konsesus bangsa serta empat pilar. (*/Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]