Home / Polkam / Patrianus Lali Wolo, Peternak Ayam yang Sukses di Dunia Politik

Patrianus Lali Wolo, Peternak Ayam yang Sukses di Dunia Politik

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Patrisius Lali Wolo

NTTTERKINI.COM, Kupang – Nama Patrianus Lali Wolo tidak asing lagi di masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain masih menjabat sebagai anggota DPRD NTT periode 2013-2019. Patris begitu sapaannya juga merupakan peternakan ayam broiler yang handal. Pada 2019, Patris akan kembali maju sebagai calon anggota DPRD NTT periode 2019-2023 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Patris akan bersaing dengan sejumlah calon lainnya di Daerah pemilihan (Dapil) V yang meliputi, Ngada, Nagekeo, Ende dan Maumere. Siapa itu Patrianus Lali Wolo?

Patris berasal dari kelurga sederhana yang hidup dari hasil beternak, bertani dan berjualan tuak aren. Walaupun penghasilan orang tuanya tidak seberapa dari hasil bertani dan jualan tuak aren atau moke putih. Namun keinginan Patris yang kuat dan amanah orang tua untuk terus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, maka pria yang lahir 21 Februari 1974 itu bisa menyelesaikan studinya hingga Sarjana (S1).

Anak bungsu dari empat bersaudara itu memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Boawae I pada 1981-1987. Namun sejak kecil orang tua Patris, Arnoldus Siga dan Margaretha Muku sudah mendidik Patris beternak dan bertani. “Mencari kayu api, dan gembala ternak sudah menjadi kebiasaan saya saat pulang sekolah,” kata Patris kepada media ini, Kamis, 27 September 2018.

Orang tua Patris juga mengajarkan tentang nilai kerja keras, rendah hati, etika dan sopan santun sudah tertanam dalam hati Patris. Walaupun Patris dulu juga terkenal sebagai anak yang sedikit bandel.

Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar, Patris kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPK Kotagoa-Boawae pada 1987 hingga tamat pada 1990. Jiwa bertani dan beternak yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak kecil menggerakkan hati Patris untuk memilih melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) St Isidorus Boawae (saat ini dikenal SPP St Isidorus Boawae).

Selama 3 tahun (1990-1993), Patris menimba banyak ilmu di SPP St Isidorus Boawae. Dia semakin terbentuk menjadi pemuda yang sangat mencintai dunia pertanian dan peternakan. Semangat untuk menimba ilmu dari Patris tidak berhenti sampai dititik ini. Rasa lapar dan dahaga akan ilmu yang sudah tertanam sejak kecil mendorong Patris untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Patris pun melanjutkan pendidikan pendidikan di ilmu peternakan di Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 1995. Berbekal nilai-nilai sudah ditanamkan keluarga sejak kecil dan pengetahuan sudah didalami saat di SPP St Isidorus Boawae, Patris mampu berdalami ilmu di Fakultasi Peternakan Undana dengan lebih cepat.

Dia mampu membentuk dirinya menjadi salah satu mahasiswa berpretasi diangkatannya. Alhasil, ketika menamatkan pendidikan tingginya di tahun 2000, Patris masuk dalam barisan mahasiswa dengan predikat kelulusan Sangat Memuaskan (terbaik).

Setelah menamatkan pendidikan tingginya (S1) pada tahun 2000, Patris kemudian mulai membangun masa depannya di pulau Dewata-Bali. Saat itu Agustus 2001, awal dimana Patris memasuki dunia kerja dengan memilih bekerja pada sebuah Perusahaan Swasta yang bergerak dibidang Peternakan yaitu PT Nusantara Unggas Jaya (PT NUJ) Bali.

Berbekal pengetahuannya yang cukup baik di dunia peternakan, Patris mampu menjawab setiap ekspetasi Perusahaan (target) baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Perlahan namun pasti, Patris kemudian bisa menjadi salah satu Karyawan Teladan dengan sejumlah pretasi yang berhasil ditorehnya.

Baca Juga :  Bawaslu RI: Politik Uang Kejahatan Luar Biasa

Atas prestasi itu, Perusahaan kemudian mengangkatnya sebagai Personal Asset yang sangat berarti bagi kemajuan Perusahaan. Setelah kurang lebih 6 tahun (2001-2007) bekerja di PT NUJ-Bali, Patris kemudian diberi mandat untuk melakukan ekspansi pasar ke Nusa Tenggara Timur.

Awal tahun 2008, Patris berhasil mendirikan sebuah anak perusahaan dari PT Charoen Pokphand Indonesia di Kota Kupang dengan nama PT Nusantara Inti Satwa (PT NIS). Perusahaan ini bergerak di bidang Peternakan Ayam Broiller. Adapun orientasi pendirian perusahaan ini untuk mencapai terget keuntungan, juga bertujuan mendongkrak pertumbuhan Ekonomi Kecil dan Menengah serta meningkatkan daya konsumsi dan supply protein hewani bagi masyarakat NTT.

Saat ini, PT NIS telah berubah nama menjadi PT Mitra Sinar Jaya (PT MSJ) Kupang, dan memiliki empat Cabang yaitu Cabang Kupang, Atambua, Nagekeo, dan Maumere, dengan populasi peternakan kemitraan yang dimiliki mencapai kapasitas 2,2 juta ekor per bulan.

Sejak didirikan pada 2008 di NTT, PT MSJ telah banyak membantu pembangunan daerah Provinsi NTT, antara lain perekonomian masyarakat terutama peternak dan pedagang ayam broyler semakin membaik. Asupan protein hewani masyakat NTT meningkat dan terjangkaunya harga ayam potong oleh daya beli masyarakat, serta membantu menambah PAD Provinsi NTT dari pembayaran Pajak Perusahaan.

Sambil menjalankan tugas perusahaan tersebut di NTT. Pada 2009 Patris kembali melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, dengan mengambil program Pasca Sarjana Manajemen Ekonomi. Berkat keuletan dan ketekunannya, Patris berhasil menyelesaikan Program Magisternya dibidang pemasaran atau marketing pada 2011 dengan gelar Magister Manajemen (M.M). 

Selama menggeluti dunia usaha peternakan ayam, PT MSJ Kupang kurang lebih 5 tahun (2008-2013), Patris banyak belajar tentang kehidupan masyarakat NTT secara kompleks. Dia menyadari bahwa NTT masih cukup jauh tertinggal pembangunannya dibanding dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Bukan hanya sektor ekonomi semata yang harus didongkrak pertumbuhannya, tetap juga sektor pendidikan, kesehatan, pariwisata, budaya, dan politik.

Patris berpendapat bahwa salah satu cara untuk lebih maksimal dan “kuat-tegas” dalam upaya pembangunan NTT ke arah yang lebih baik adalah dengan terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan pemerintah daerah. Jalur politik menjadi solusi harus segera diambil.

Pada tahun 2013 menjadi awal dimana Patris mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Dia memutuskan untuk berhenti dari PT MSJ Kupang dan memilih melanjutkan karier hidupnya di dunia Politik. Berbekal Spirit Kebangsaan yang terkristal dalam Trilogi Bung Karno yang sudah dia dalami sejak masih aktif di organisasi kemahasiswaan dulu, Patris kemudian memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai kendaraan politiknya.

Patris menilai PDIP merupakan Partai Politik yang paling tepat baginya untuk menyalurkan cita-cita Politiknya. Mengapa demikian? Karena PDIP adalah Partai Politik yang paling konsisten dalam menjaga Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia. “Semua hal yang baik dan yang berasal dari hati, pasti menyentuh hati,” kata Patris.

Berbekal semangat kerakyatan dan ketulusan hati dalam melayani, pada tahun 2014 Patris mencalonkan diri sebagai Wakil Rakyat Provinsi NTT melalui PDIP. Dengan motto hidupnya “Berbuat Hal Kecil Untuk Perubahan Bagi Sesama”, Patris kemudian terpilih menjadi Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi PDIP Periode 2014-2019.

Baca Juga :  Ray Fernandez Masuk Tim Kampanye Viktory- Jos

Di PDIP NTT, Patris menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Sedangkan, jabatan di DPRD NTT sebagai Bendahara Fraksi PDI Perjuanagan DPRD NTT 2014-2019,
Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT 2014-2019 dan Anggota Badan Anggaran DRPD NTT 2014-2019. Patris juga masih aktif sebagai Ketua Dewan Pembina Generasi Mengawal Pancasila (GEMPA) NTT 2018.

Hingga saat ini, kurang lebih 4 tahun sudah Patris mengemban amanah rakyat sebagai Wakil Rakyat. Memang tidak semua mata bisa melihat, tidak semua telinga bisa mendengar, namun setidaknya sudah banyak masyarakat baik di daerah pemilihannya maupun daerah lain yang sudah merasakan perubahan positif dari kehadiran Patris di Lembaga Legislatif Provinsi NTT.

Ditengah kesibukannya sebagai Wakil Rakyat, PT Charoen Pokhpan Indonesia, kembali mengajak Patris agar bersedia kembali bekerjasama dengan perusahaan tersebut. Patris masih tetap menjadi Personal Asset yang belum ditemukan penggantinya.

Kini pengabdiannya untuk masyarakat pun bertambah. Di samping sebagai Wakil Rakyat, Patris juga berkarya sebagai Konsultan PT Chaeron Pokphand Indonesia untuk wilayah NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Berkat keuletannya bersama Team Work yang telah dibentuk, populasi peternakan ayam broiller sudah mencapai jumlah yang cukup banyak antara lain, NTT 2,2 juta ekor per bulan, Maluku 300 ribu ekor, dan Papua 500 ribu.

Dari jumlah ini bisa dibayangkan sudah cukup banyak masyarakat kecil (wong cilik) yang terbantu ekonominya dari usaha beternak ayam broiller dan jualan ayam broiller atau ayam potong ini di pasar-pasar lokal. Saat ini, PT Charoen Pokphand Indonesia melalui anak perusahaannya PT Mitra Sinar Jaya NTT sedang melakukan ekspansi pasar ke negara tetangga Timor Leste di bidang ekspor pakan dan anak ayam (DOC), serta membuka lagi cabang baru di pulau Sumba, tepatnya di Sumba Timur.

“Penuh harapan upaya ini dapat membantu mendongkrak ekonomi Kecil Menengah di pulau Sumba, serta dapat bersumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi NKRI pada umumnya,” katanya.

Mengemban tugas-tugas yang demikian padat ini, memang bukan perkara mudah bagi Patris. Semua waktunya hampir habis berada di tengah masyarakat, untuk mendengar keluhan rakyat, mimpi rakyat, serta mengedukasi rakyat tetang strategi ekonomi kecil menengah. Sebagai manusia biasa, Patris juga merasakan keletihan dan kesulitan. Namun semua itu dapat dia lalui berkat sosok perempuan kuat ini Efrida Anita da Silva,
istri sekaligus ibu dari anak-anaknya (Willy dan Angel) ini, setiap detik tanpa hentinya selalu mensupport dan mendoakan suami tercintanya Patris, untuk tetap kuat dalam pengabdiannya.

Semua pengabdian ini Patris lakukan dengan segala ketulusan hatinya. Setiap apa yang terucap dari mulutnya, selalu dia lakukan dalam kerja nyata. Dia selalu memberi teladan dalam kerja nyata untuk setiap buah pikiran baik yang hendak dia ucapkan. Karena itu, dalam setiap kunjungannya ke tengah masyarakat, Patris yang akhir-akhirnya ini semakin dikenal dengan sapaan “PLW” (Patrianus Lali Wolo) selalu menitipkan pesan bijak ini : “Solo Bhila Ta Tau, Tau Ngusa Bhila Ta Solo” ! (*/Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]