Home / Sosbud / Proyek Kantor Bupati Sikka Segera di PHK

Proyek Kantor Bupati Sikka Segera di PHK

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Kantor bupati Sikka Mangkrak

NTTTERKINI.COM, Maumere – Setelah terkatung-katung tidak jelas, pelaksanaan Proyek Pembangunan Kantor Bupati Sikka kini mulai terang benderang. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atas proyek senilai Rp 29 miliar lebih itu.

“Saat ini sedang dalam proses untuk melaksanakan PHK,” Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka Thomas Agustinus Lameng, Jumat, 20 April 2018.

Pihaknya akan mem-PHK  kontraktor pelaksana PT Palapa Kupang Sentosa, dengan hanya membayar pekerjaan sesuai fisik pekerjaan yang telah diselesaikan. Selanjutnya, sisa pekerjaan akan dilelangkan secara terbuka.

Menurut dia, realisasi fisik yang sudah dikerjakan kontraktor pelaksana baru 91 persen sesuai perhitungan konsultan pengawas. Pihaknya telah memerintahkan PPK untuk segera melakukan cek fisik di lapangan. Hasil penghitungan fisik tersebut akan disampaikan kepada Inspektorat Kabupaten Sikka guna membantu proses audit.

Baca Juga :  Angin Kencang, Papan Reklame di Kota Kupang Roboh

“Kami akan hitung dulu realisasi fisik, lalu nanti ada audit dari Inspektorat. Setelah semuanya selesai baru akan dibuatkan Berita Acara PHK. Saya sudah minta PPK agar dalam bulan April ini semua proses harus sudah selesai,” jelas Thomas.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Sikka Donatus David menyayangkan sikap pemerintah yang lamban dan tidak tegas terhadap pelaksanaan mega proyek ini. DPRD Sikka telah merekomendasikan agar pekerjaan proyek tersebut dihentikan karena telah melewati masa waktu pekerjaan.

Diketahui kontraktor pelaksana telah meninggalkan pekerjaan tanpa pamit sejak pertengahan Februari 2018 lalu. Dia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan hingga deadline waktu pada 28 Desember 2017 dan tambahan waktu 50 hari.

Baca Juga :  Polisi Usut Kematian TKW Adelia Sau 

Saat angkat kaki ke Kupang, realisasi fisik mencapai 91 persen dan realisasi keuangan 73 persen. Menurut Thomas Lameng, kontraktor pelaksana mengaku kesulitan uang sehingga terpaksa meninggalkan pekerjaan. (Vik)

Share Button

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]