Home / Ekbis / Warga Belu Diajak Manfaatkan Kekayaan Budaya

Warga Belu Diajak Manfaatkan Kekayaan Budaya

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]

Bekraf- Tempo Institute

NTTTERKINI.COM, Atambua – Bekraf mengajak warga Belu agar memanfaatkan kekayaan budaya di kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste itu untuk usaha ekonomi kreatif. “Ekonomi kreatif adalah solusi kemandirian. Tahun lalu, pak bupati berhasil menghadirkan 6000 motif tenun yang tidak dimiliki di daerah lain,” kata Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Endah Wahyu Sulistianti saat membuka Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf – Tempo Institute atau Kombet Kreatif di Rumah Estribi, Minggu, 7 Oktober 2018.

Menurut Endah, pekerjaan ekonomi kreatif ini tidak harus melibatkan banyak orang. “Bisa dilakukan sendirian, dari rumah bisa melakukan pekerjaan ekonomi kreatif,” katanya.

Menurut Endah, banyak organisasi, salah satunya Tempo Institute melakukan pendampingan terhadap para pelaku ekonomi kreatif. “Ketika semua sudah di lapangan, kami yang bertindak menyapu jalananan,” ujarnya.

Ia mengatakan Presiden Jokowi sudah memerintahkan agar tiap kementerian atau lembaga setingkat bekerja sampai di perbatasan. Tahun lalu, kata Endah, Bekraf menemukan di Belu banyak membuat produk ekonomi kreatif unggulan, tapi tidak tahu mempresentasikan dengan baik. “Semoga dari Kombet Kreatif ini, mama-mama dan nona-nona bisa membuat storytelling dan menjual produk ekonomi kreatifnya di media sosial,” tuturnya.

Baca Juga :  SCTV Bantu Korban Banjir Benanain

Bupati Belu Willybrodus Lay berharap warganya bisa menangkap peluang. Willy mencontohkan, seragam sekolah yang dipakai pelajar Belu kebanyakan berasal dari satu pabrikan saja. “Kenapa ini tidak melihat peluang. Kita tidak pernah berpikir tentang peluang bisnis,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Willy, banyak pelaku ekonomi kreatif di Belu. “Tapi sekadar bikin jual, buat lagi lalu jual lagi, gak berpikir tentang pasar,” katanya. “Seharusnya yang kita lakukan bukan membuat satu produk tapi memikirkan bagaimana memasarkan.”

Kepala Dinas Pariwisata Belu Johannes Andes Prihatin mengajak para pegiat ekonomi kreatif di Belu memanfaatkan kegiatan Kombet Kreatif ini untuk mendapatkan ilmu bagaimana membranding dan membuat storytelling produk mereka. Ia mencontohkan, saat ini di Jakarta, makanan yang dikemas dengan daun harganya dijual dua kali lipat dari yang disajikan di piring. “Cara pengemasan dan metode penjualannya benar-benar dipikirkan,” katanya.

Baca Juga :  Utang Pajak OJK Capai Rp 901 Milliar

Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim berharap peserta Pendampingan Kombet Kreatif bisa berkolaborasi membuat produk ekonomi kreatif yang baru. “Nanti setelah berkolaborasi, silakan dibuat akta hukum yang difasilitasi oleh Bekraf,” ujarnya.

Dari 12 lawatan kota Kombet Kreatif, kata Mardiyah, baru Padang yang sudah membuat organisasi sendiri dalam kolaborasi ini dan siap dibuat badan hukum.

Kombet Kreatif adalah kegiatan pendampingan kepada para pelaku ekonomi kreatif yang diadakan oleh Tempo Institute dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Ada lawatan 12 kota dalam kegiatan ini, yakni Padang, Surabaya, Karangasem, Maumere, Kendari, Malang, Bojonegoro, Bandung Barat, Singkawang, Belu, Kupang, dan Merauke.

Dalam pendampingan ini, peserta akan mendapatkan materi inspiratif dari para pegiat ekonomi kreatif, belajar membuatbranding, dan praktik membuat storytelling yang memikat dan menambah nilai jual produk ekonomi kreatif mereka. (*/Ado)

Share Button

Komentar ANDA?

Tags : # #

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]