Home / Sosbud / Warga Kote-Noemuti Gelar Upacara Adat Kure

Warga Kote-Noemuti Gelar Upacara Adat Kure

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]
Perempuan Kote sedang membersihkan patung Bunda Maria.

Perempuan Kote sedang membersihkan patung Bunda Maria.

NTTTERKINI.COM, Kefa – Warga Kampung Kote, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis, 28 Maret 2013, menggelar upacara Kure atau pembersihan benda- benda rohani, seperti salib dan patung budan Maria. Air bekas cucian itu digunakan untuk membersihkan diri agar terbebas dari sakit penyakit dan marabahaya.

Upacara ini, dilakukan kepala suku Kote Salem, Yosep Namo Salem dengan mencuci benda- benda rohani peninggalan Portugis pada jaman penjajahan tahun 1916 yang masih tersimpan rapi di rumah adat tersebut.

Upacara Kure ini digelar warga kampung Kote, setahun sekali menjelang perayaan Paskah. Setelah benda-benda itu di cuci oleh kepala suku, air bekas cucian itu akan digunakan untuk membasuh muka, kaki, tangan dan badan para anak suku, karena dipercaya bisa menyembuhkan sakit penyakit dan bebas dari marabahaya, sehingga dianggap layak mengikuti perayaan Paskah.

Baca Juga :  Jelang Putusan, Orang Tua Minta Wilfrida Diselamatkan

Kote adalah sebuah kampung yang berada di Kecamatan Noemuti. Menurut sejarah Kote, pada masa penjajahan Kote adalah wilayah jajahan Belanda, sebelum akhirnya diduduki Portugis yang dibarterkan dengan Pulau Mautakar, salah satu daerah di Timor Leste sekarang.

Tentara portugis (Topasis) yang datang bersama Imam Katolik Fransiskan kemudian memperkenalkan dan menyebarkan agama Katolik yang mereka anut ke penduduk Kote. Salah satu peninggalan para imam Fransiskan dalam misi penyebaran imam Katolik adalah menempatkan patung-patung kudus dan benda-benda devosional di rumah- rumah adat (Umum Mnasi).

Setiap memasuki perayaan Kamis Putih, umat menjalani ritual Taniu Uis Neno atau kegiatan ini merupakan ritual pembersihan dan penyerahan diri kepada sang khalik. Sekaligus ungkapan rasa syukur atas berkat yang diterima dalam setahun perjalanan hidup. Upacara ini ditandai dengan pembersihan patung religi atau benda devosi (Kote).

Baca Juga :  Bupati TTU Ajukan Judicial Review Askes ke MK

Yosep Namo Salem, Kepala suku Kote, Noemuti, mengatakan pembersihan benda- benda rohani tersebut sesuai dengan amanah para misionaris. Benda- benda rohani tersebut hanya dikeluarkan sekali dalam setahun untuk dibersihkan yakni menjelang pesta paskah.

Air bekas cucian benda- benda rohani juga tidak langsung dibuang, tetapi digunakan untuk membasuh anggota tubuh sekeluarga, agar terhindar dari sakit penyakit dan dosa- dosa.

“Air sisa pembersihan patung digunakan untuk membasuh wajah dada, kaki tangan tiap anggota rumpun suku sebagai lambang pembersihan diri dan pembawa damai,” katanya. (Dit)

Komentar ANDA?

Bagikan Halaman ini

Share Button
[simple-social-share]