YTB Luncurkan Program Kesehatan Mata Inklusif

0
262

Peluncuran program kesehatan mata inklusif

NTTTERKINI.COM, Kupang – Yayasan Tanpa Batas (YTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan program kesehatan mata inklusif di tiga kabupaten/kota, yakni Timor Tengah Selatan, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Direktur YTB, Deny Sailana mengatakan berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) atau survey cepat untuk kebutaan yang dapat dicegah di beberapa provinsi tahun 2014-2016 menunjukkan prevalensi kebutaan pada populasi usia di atas 50 tahun berkisar antara 1,4 persen hingga 4,5 persen. 
Angka prevalensi di NTT sebesar 2 persen. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,287,302 menurut BPS 2017 (843,998 usia>50) diperkirakan ada sekitar 16.880 orang yang buta di NTT. Dari jumlah tersebut diperkirakan ada 12.660 orang yang buta karena katarak. 
“Sementara itu jumlah kasus baru katarak per tahunnya sebesar 2.532,” kata Deny di sela-sela peluncuran program kesehatan mata, Kamis, 6 Februari 2020.

Selain mengacu kepada data sensus penduduk tahun 2010, menurut dia, jumlah penyandang disabilitas di Provinsi NTT sebesar 6,6 persen dari total populasi. “Banyak penyandang disabilitas yang mengalami marginalisasi dalam masyarakat dan hambatan-hambatan untuk memperoleh hak-hak dasar mereka sepertidalam mendapatkan layanan kesehatan,” katanya.
Dengan melihat persoalan itu, lanjut dia, maka Yayasan Tanpa Batas (YTB) bekerjasama dengan Christoffel BlindenMission (CBM) Indonesia untuk merancang sebuah program untuk mengatasi persoalan-persoalan gangguan penglihatandi NTT. 
YTB adalah salah satu lembaga lokal yang bergerak di isu kesehatan di NTT sejak tahun 2001, sedangkan CBM adalah sebuah organisasi pembangunan internasional yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup orang dengan disabilitas atau yang memiliki risiko disabilitas yang hidup dalam kemiskinan. 
CBM sudah bekerja di Indonesia sejak tahun 1978 dan bermitra dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak tahun 2003. Berdasarkan MoU dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2017, wilayah kerja CBM adalah 11 Provinsi di Indonesia dan salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kerjasama kedua lembaga ini menghasilkan sebuah rancangan program di NTT dengan sebuah program yang diberi nama ”Inclusive System for Effective Eye-Care (I-SEE) I-SEE”. 
Program ini, kata Deny, dirancang untuk mendukung pemerintah mengurangi angka gangguan penglihatan dan kebutaan, khususnya yang disebabkan katarak, melalui penguatan sistem layanan kesehatan mata. 
“Disamping itu, programI-SEE berupaya mempromosikan pemenuhan hak penyandang disabilitas dengan meningkatkan akses ke layanan kesehatan mata yang komprehensif,” katanya. 
Dalam program I-SEE ini, ada tiga wilayah yang menjadi wilayah sasaran program, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Ketiga daerah ini potensial menjadi wilayah implementasi program, karena jumlah populasinya. 
Berdasarkan data BPS  tahun 2017, populasi penduduk Provinsi NTT sebesar 5.287.302 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di seluruh provinsi NTT, maka prosentase jumlah penduduk di 3 wilayah tersebut sebesar 23,49 persen atau sebesar 1.198.197 jiwa.
Program ini juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat dan para pengambil keputusan tentang hak-hak penyandang disabilitas dan akan secara aktif melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan implementasi program. 
“Model yang akan dikembangkan ini diharapkan bisa menjadi suatu percontohan yang bisa direplikasi oleh kabupaten-kabupaten lain,” ujarnya. (*/Ado)

Komentar ANDA?